Garam Maros Tak Sekadar Komoditi, Kini Didorong Masuk Industri Hilir

  • 24 Sep 2026 21:03 WIB
  •  Makassar
Video

RRI.CO.ID, Maros - Tim Pengembangan Garam Universitas Hasanuddin bersama Pemerintah Kabupaten Maros dan mitra industri mengembangkan produksi garam di wilayah pesisir Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Pengembangan ini menjadi bagian dari program Hiliriset Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026..Program tersebut memanfaatkan lahan tambak yang terdampak kemarau panjang dan mengalami peningkatan salinitas.

Kondisi itu membuat sebagian tambak yang sebelumnya digunakan untuk budidaya ikan, kini dialihkan menjadi lahan produksi garam. Perwakilan Tim Pengembangan Garam Unhas, AM Ansar, mengatakan pendampingan produksi garam di Maros telah dilakukan sejak 2023.

Pengembangan kemudian diperkuat melalui penerapan teknologi dan pengelolaan lahan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat Salah satu lokasi produksi berada di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa. Dari lahan sekitar nol koma enam hektare, produksi Garam Krosok sejak awal Agustus 2026 telah mencapai sekitar 15 ton.

Sementara di Desa Tuppabiring dan Bonto Bahari, pengembangan juga terus dilakukan. Secara keseluruhan, lahan produksi garam di Kecamatan Bontoa mencapai sekitar delapan hektare dengan total produksi sekitar 80 ton. Potensi produksi diperkirakan mencapai sekitar 100 ton per bulan, dengan nilai ekonomi sekitar 100 juta rupiah per bulan.
Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam ikut meninjau langsung sentra produksi Garam Krosok di Desa Ampekale. Chaidir mengatakan, pengembangan garam menjadi salah satu bentuk adaptasi masyarakat menghadapi kemarau panjang.
Melalui program Hiliriset Kemendiktisaintek 2026, pengembangan garam Maros tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan teknologi, kualitas produk, hingga keterhubungan dengan industri.
Garam yang dihasilkan masyarakat saat ini merupakan Garam Krosok atau garam kasar yang belum melalui proses iodisasi. Produk tersebut diarahkan untuk berbagai kebutuhan produktif, di antaranya pengolahan ikan asin, bahan pakan ternak, serta kebutuhan tertentu di sektor pertanian.
Kolaborasi Unhas, Pemkab Maros, masyarakat dan mitra industri diharapkan dapat mendorong kawasan pesisir Bontoa menjadi salah satu sentra produksi garam sekaligus membuka sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....