Ramadan di Balik Jeruji, Cahaya Harapan Warga Binaan
- 28 Feb 2026 14:45 WIB
- Makassar
Video
RRI.CO.ID, Maros : Suasana Ramadan di Lapas Kelas IIB Maros terasa berbeda. Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang terkunci rapat, bulan suci tetap hadir membawa cahaya harapan.
Di tempat ini, para warga binaan menjalani puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan rindu, menahan sesal, dan belajar menerima keadaan. Salah satunya adalah MK. Ramadan tahun ini menjadi Ramadan keduanya selama menjalani masa hukuman.
Ia telah berada di dalam lapas selama satu tahun empat bulan dari total vonis sekitar empat tahun. "Ramadan pertamanya terasa berat, lantaran hatinya masih diliputi kecemasan. Ibadah pun terasa belum sepenuhnya khusyuk", ucap MK, Jumat 27 Februari 2026.
Namun di Ramadan kedua ini, MK merasa lebih ikhlas. Ia mulai menemukan makna di balik keterbatasan. Bahkan kini, ia dipercaya mengajar mengaji bagi sesama warga binaan.
Tak hanya MK. Warga binaan lainnya, IW merasakan perubahan yang sama. Ramadan menjadi ruang refleksi. "Hari-hari diisi dengan pengajian, salat berjamaah, dan tadarus Al-Qur’an. Mereka menyadari, tempat yang dulu dianggap penuh stigma, justru menjadi ruang pembinaan dan perbaikan diri." urainya.
Pihak lapas pun berupaya menghadirkan suasana Ramadan yang lebih religius dan menenangkan.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, menjelaskan bahwa selama bulan suci, kegiatan keagamaan ditingkatkan.
"Lapas juga bekerja sama dengan Kementerian Agama serta Wahda Islamiyah Kabupaten Maros untuk menghadirkan program pembelajaran membaca Al-Qur’an metode dirosa bagi warga binaan dewasa.Tak hanya itu, jadwal kunjungan keluarga selama Ramadan disesuaikan ke sore hari. " jelas Ali Imran.
Tujuannya agar warga binaan dapat berbuka puasa dengan makanan tambahan dari keluarga sebuah momen sederhana yang menghadirkan kehangatan di balik jeruji. Di tempat ini, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ia menjadi momentum untuk menata hati, memperkuat iman, dan menumbuhkan harapan baru.
Di balik pintu besi yang terkunci, cahaya Ramadan tetap menyala menerangi langkah mereka menuju perubahan.