Jaga Kestabilan Harga, Diperlukan Pola Atur Tanam Tomat

  • 30 Nov 2025 22:58 WIB
  •  Makassar
Video

KBRN, Makassar: Harga komiditi tomat dalam beberapa terakhir anjlok, di kota Makassar bahkan dijual dengan harga Rp 5.000 - Rp 10.000 kg, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan menyebutkan, salah satu penyebab harga anjlok adalah hasil produksi yang naik hingga tiga kali lipat,untuk itu diperlukan pola atur tanam di waktu tertentu.

Hal ini diungkapkan, Pelaksana tugas Kepala Bidang Hortikultura, Nur Alam. Menurutnya , para petani ini berbondong menanam tomat belajar di tahun 2024 lalu, dimana saat panen harganya naik dengan kondisi produksi yang stabil, karenanya pada tahun ini mereka menerapkannya. Produksi meningkat tapi harga malah turun.

Menurutnya, pihaknya telah melakukan koordinasi dan memastikan kondisi terkait komoditi tomat ini, dimana memang ada lonjakan pertanaman , karena petani memiliki pengalaman di tahun lalu, dimana harga tomat di November - Desember mengalami kenaikan, "Makanya petani mengantisipasi dengan pertanaman di Oktober kemarin, dan ini akan berpengaruh terhadap produksi di November yang juga pasti akan meningkat jauh lebih tinggi, dan mempengaruhi harga yang tinggi. Namun mereka tidak paham, dengan produksi tinggi justru membuat harga turun," kata Nur Alam, Minggu 30 November 2025.

Nur Alam menyebutkan, Kabupaten Gowa memang menjadi salah satu daerah yang mensuplai tomat di kota Makassar, rata-rata luas pertanaman di sana 30 -40 hektar, dan ini meningkat bahkan di satu wilayah ada yang sampai 125 hektar. Untuk itu, kedepan pihaknya akan berkoordinasi mengatur pola tanam di waktu tertentu, kalau di Tanaman Pangan ada namanya tudang sipulung.

"Kami akan coba koordinasi dengan semua pihak agar kedepan pola tanamanya di atur di waktu tertentu , jadi saat panen tidak seragam, sehingga nanti produksi bisa dijaga, dan harga tidak anjlok juga,"papar Nur Alam.

Hal senada disampaikan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kemal Redindo, tomat salah satu kebutuhan yang bukan penyumbang inflasi. Namun memang dalam pendataan ada penurunan harga yang cukup signifikan. Tetapi pada tingkat pedagang ini pasti menguntungkan yang kasihan kan tingkat petani itu, karena harganya di petani juga pasti relatif murah dan bahkan bisa rugi.

Lebih jauh, Kemal Redindo menambahkan dari sisi tingkat konsumsi kita yang ada di masyarakat, tomat ini menjadi kebutuhan yang cukup signifikan digunakan, apalagi dalam hal masak-memasak. Oleh karena itu kalau melihat dari sisi harga, ini masih relatif dalam keadaan yang ada lah. Walaupun tidak besar keuntungannya pasti ada.

"Hanya kalau kami melihat kenapa turun harga ini ya memang karena panennya bersamaan. Perlu diatur lagi jadwal-jadwal panen yang ada, sehingga tomat ini bisa dijaga kestabilan produksinya, kestabilan konsumsinya, dan kestabilan harganya," ungkapnya (Iin Nurfahraeni)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....