Api Tak Kunjung Jinak, Karhutla TN Babul Meluas Dampak Sulitnya Medan Karst
- 05 Okt 2026 20:28 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Pangkep – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, belum juga sepenuhnya terkendali. Memasuki hari kelima pada Minggu 4 Oktober 2026, luas kawasan yang terdampak kebakaran telah mencapai hampir 26 hektare.
Kepala Balai TN Babul, Abdul Rajab, mengatakan luasan tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan kondisi pada awal kejadian. Saat kebakaran pertama kali teridentifikasi, area yang terbakar diperkirakan sekitar 10 hingga 15 hektare.
"Sampai tadi siang kita mengidentifikasi hampir 26 hektare yang terbakar. Ini meluas dari hari pertama yang sekitar 10 sampai 15 hektare," kata Abdul Rajab, Minggu 4 Oktober 2026.
Kebakaran pertama kali terjadi pada Rabu malam 30 September 2026 di kawasan Gunung Lesang. Api kemudian bergerak menuju kawasan karst yang membentang dari Kampung Matojeng hingga Kampung Sabila, Kelurahan Minasatene, Kabupaten Pangkep.
Pergerakan api berlangsung cepat karena kondisi medan dan cuaca di lokasi. Tiupan angin kencang membuat api lebih mudah berpindah dari satu titik ke titik lainnya, terutama di kawasan tebing dan celah-celah karst yang sulit dijangkau petugas.
Batuan Karst Membara dan Memicu Titik Api Baru
Abdul Rajab menjelaskan, karakteristik kawasan karst menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman jauh lebih sulit.
Sejumlah titik api berada di puncak tebing maupun di celah batuan yang tidak memungkinkan dijangkau menggunakan peralatan pemadam konvensional.
Kondisi semakin rumit ketika batuan karst yang telah membara terlepas dan jatuh ke bawah. Batuan panas tersebut berpotensi memicu titik api baru ketika mencapai area yang masih memiliki vegetasi kering.
"Karena penanganan kebakaran di puncak dan celah karst tidak dimungkinkan, titik api menyebar karena angin sangat kencang. Bahkan batu yang ikut jatuh dari puncak karst memicu titik api baru di sekitar permukiman warga, yang jaraknya jauh dari titik awal," jelasnya.
Situasi ini membuat petugas tidak hanya menghadapi satu titik api. Api dapat muncul kembali di lokasi berbeda akibat bara yang berpindah atau material panas yang jatuh dari kawasan tebing.
Api Sudah Memasuki Zona Inti TN Babul
Perluasan kebakaran juga berdampak terhadap sejumlah zona konservasi di dalam kawasan TN Babul. Abdul Rajab mengatakan, api telah bergerak melintasi beberapa zona taman nasional.
Kebakaran yang awalnya berada di kawasan zona rimba kini telah mencapai zona inti. Pergerakan tersebut terjadi karena api mampu melintasi bentang alam karst dan menyebar mengikuti kondisi vegetasi serta arah angin.
"Yang terbakar ini sudah melintasi beberapa zona taman nasional, dari zona rimba sampai zona inti sudah ada yang terbakar karena api menyeberang dari titik awal. Kebakaran hanya di Kecamatan Minasatene," ungkapnya.
Meski demikian, hingga Minggu, sebaran kebakaran masih teridentifikasi di wilayah Kecamatan Minasatene dan belum meluas ke kecamatan lainnya.
30 Personel Manggala Agni Dikerahkan
Memasuki hari kelima penanganan, upaya pemadaman terus dilakukan secara terpadu.
Sebanyak 30 personel Manggala Agni diturunkan untuk menangani kebakaran. Mereka diperkuat tim dari Seksi Wilayah 1 dan Seksi Wilayah 2 Balai TN Babul serta personel dari sejumlah instansi terkait.
Namun, medan terjal menjadi kendala utama dalam operasi pemadaman. Tebing batu, celah karst, dan kemiringan medan membuat petugas tidak dapat menjangkau seluruh titik api secara langsung.
"Karakteristik kebakarannya menyebar di celah-celah karst. Sangat tidak dimungkinkan personel menjangkau ke celah tersebut. Kalau harus memanjat, kami mengutamakan keselamatan teman-teman," ujar Rajab.
Pertimbangan keselamatan menjadi prioritas karena pemadaman di tebing karst memiliki risiko tinggi bagi petugas. Selain medan yang curam, keberadaan batuan yang dapat runtuh atau jatuh sewaktu-waktu juga menjadi ancaman.
Petugas Andalkan Pompa Punggung
Keterbatasan akses juga membuat selang dari mesin pemadam sulit ditarik menuju sejumlah titik api. Untuk menjangkau area yang tidak dapat diakses kendaraan maupun peralatan pemadam berukuran besar, petugas menggunakan pompa punggung atau jet shooter.
Peralatan tersebut memungkinkan personel membawa suplai air secara lebih fleksibel menuju titik-titik kebakaran yang berada di medan sempit dan sulit dijangkau. Upaya pemadaman terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi angin dan karakteristik medan.
Petugas juga melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali terbakar akibat bara yang masih tersimpan di celah batuan. Kebakaran yang telah berlangsung selama lima hari ini menjadi tantangan serius bagi upaya perlindungan kawasan konservasi TN Babul.
Selain memperluas area terdampak hingga hampir 26 hektare, api juga telah memasuki zona inti taman nasional. Penanganan selanjutnya masih bergantung pada kondisi cuaca, arah angin, akses menuju titik api, serta kemampuan petugas menjangkau area karst yang menjadi lokasi utama penyebaran kebakaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....