Jejak Sejarah dan Evolusi Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

  • 17 Sep 2026 14:06 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Perkembangan fungsi dan status Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dari masa ke masa mencerminkan dinamika pembangunan ekonomi kawasan Indonesia Timur. Dari sekadar lapangan terbang perintis berlandaskan rumput, kini fasilitas tersebut berkembang menjadi salah satu pusat transit udara terpadu paling sibuk di tanah air.

Dilansir dari dokumentasi PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Sultan Hasanuddin, Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan, dan Catatan Sejarah Perhubungan Udara Indonesia, Pada era awal kemerdekaan tepatnya tahun 1955, status pengelolaan Pelabuhan Udara Mandai mulai ditata secara sistematis oleh Djawatan Penerbangan Sipil. Pemerintah secara bertahap memperpanjang landasan pacu agar sanggup didarati oleh pesawat berbodi lebih besar seperti Douglas DC-3 Dakota dan Convair 240.

Memasuki dekade 1980-an, peningkatan status menjadi bandara internasional mendorong percepatan pembangunan fasilitas pendukung penerbangan. Perubahan nama menjadi Bandara Sultan Hasanuddin pada tahun 1980 diikuti peningkatan status pendaratan penerbangan langsung antarnegara, khususnya rute ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Perubahan struktur pengelolaan secara signifikan terjadi pada tahun 1985 ketika operasional bandara diserahkan kepada BUMN pengelola bandara, PT Angkasa Pura I (Persero). Di bawah pengelolaan ini, modernisasi berbagai fasilitas keamanan, pemanduan lalu lintas udara, serta terminal penumpang terus dipacu secara berkesinambungan.

Langkah transformatif berikutnya dilakukan pada tahun 2008 dengan meresmikan terminal baru yang berlokasi tidak jauh dari kompleks lama. Terminal baru yang megah ini mengusung desain unik berbentuk Kapal Phinisi dan dilengkapi fasilitas landasan pacu sepanjang 3.100 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar (wide body).

Sebagai hub logistik dan penumpang utama, keberadaan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terbukti memberikan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian lokal. Sektor pariwisata, perdagangan, serta investasi di Sulawesi Selatan tumbuh pesat ditopang oleh kemudahan aksesibilitas transportasi udara.

Memasuki era modern, pengembangan kawasan gerbang udara Makassar ini terus dilanjutkan guna menampung lonjakan kapasitas penumpang. Keberadaan bandara ini tidak hanya mencatatkan sejarah fisik bangunan, tetapi juga memegang peranan krusial dalam merawat persatuan nasional melalui konektivitas udara antarpulau di Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....