Salat Istisqa, Ikhtiar Hadapi Kemarau Panjang dan Cara Pelaksanannya
- 13 Sep 2026 11:22 WIB
- Makassar
RRI.CO,ID, Makassar - Dampak musim kemarau panjang yang dirasakan sebagian besar wilayah dalam beberapa bulan terakhir telah memicu kekeringan parah di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Krisis air bersih mulai melanda, lahan pertanian terancam gagal panen, serta ancaman kebakaran hutan kian meningkat akibat minimnya intensitas curah hujan. Kondisi darurat ekologis ini tidak hanya menguji ketahanan fisik masyarakat, tetapi juga memanggil kesadaran spiritual untuk segera mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sebagai bentuk ikhtiar batiniah yang dianjurkan dalam ajaran Islam, adalah melaksanakan salat sunnah minta hujan atau yang dikenal sebagai Salat Istisqa. Ibadah sunnah muakkadah ini dilaksanakan secara berjemaah di lapangan terbuka guna mencurahkan segala keluh kesah, memohon ampunan, serta mengetuk pintu rahmat Allah SWT agar segera menurunkan air hujan yang penuh berkah bagi seluruh alam.
Pelaksanaan ibadah agung ini merujuk pada landasan normatif yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Anjuran memohon ampun sebagai kunci pembuka pintu langit ditegaskan Allah SWT dalam Surah Nuh ayat 10 sampai 11 yang berbunyi:
Faqultustaghfiru rabbakum innahu kana ghafara, yursilis-sama'a alaikum midrara.
Artinya: "Maka aku berkata kepada mereka, 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu'."
Selain ayat tersebut, tuntunan pelaksanaan Salat Istisqa juga merujuk pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.Dari Abdullah bin Zaid RA, ia berkata:
An-nabiyya kharaja ila al-mushallā fastasqā, fastaqbala al-qiblata, wa qalama ridā'ahu, wa shalla rak'ataini.
Artinya: "Nabi SAW keluar menuju lapangan, kemudian memohon hujan. Beliau menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, dan salat dua rakaat."(HR. Al-Bukhari no. 1011 dan Muslim no. 894)
Sebelum melaksanakan ibadah di lapangan, terdapat serangkaian persiapan moral dan fisik yang dianjurkan bagi umat Islam. Imam atau tokoh masyarakat setempat biasanya menyerukan agar warga memperbanyak tobat, menunaikan sedekah, menghentikan segala bentuk kezaliman, serta menyelesaikan perselisihan antarsesama manusia.Selain itu, masyarakat dianjurkan berpuasa sunnah selama tiga hari berturut-turut sebelum hari pelaksanaan salat.
Pada hari keempat, masyarakat secara bersama-sama keluar menuju lapangan terbuka dengan mengenakan pakaian sederhana yang biasa digunakan sehari-hari tanpa berhias atau memakai pakaian mewah. Uniknya, anak-anak, kaum lansia, bahkan hewan ternak turut dibawa serta ke lokasi salat sebagai simbol kerendahan hati, kelemahan makhluk, serta bentuk kepasrahan total kepada Sang Khalik.
Dikutip dari website kemenag.go.id, Tata cara pelaksanaan Salat Istisqa pada dasarnya memiliki kesamaan struktur dengan pelaksanaan Salat Idul Fitri atau Idul Adha.Salat ini dikerjakan sebanyak dua rakaat secara berjemaah tanpa didahului azan dan iqamah, melainkan cukup dengan seruan ash-shalatu jamiah.Pada rakaat pertama, disunnahkan takbir sebanyak tujuh kali sebelum membaca Surah Al-Fatihah, dan pada rakaat kedua dilakukan takbir sebanyak lima kali.
Setelah pelaksanaan salat dua rakaat selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan dua khutbah khusus oleh khatib. Terdapat tradisi sunnah yang khas dalam khutbah istisqa, di mana khatib mengawali khutbah pertama dengan membaca istighfar sebanyak sembilan kali dan khutbah kedua sebanyak tujuh kali.Menjelang akhir khutbah kedua, khatib disunnahkan menghadap ke arah kiblat, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi seraya berdoa memohon hujan, serta membalikkan posisi selendang atau kain ridha' yang diampunya sebagai perlambang perubahan nasib dari kekeringan menuju kesuburan.
Melalui pelaksanaan ibadah Salat Istisqa ini, para ulama berharap masyarakat tidak hanya sekadar berharap turunnya air hujan secara fisik, tetapi juga mampu melakukan instrospeksi diri atas segala kesalahan yang diperbuat. Hujan yang nantinya turun diyakini tidak hanya menyuburkan tanah yang tandus, tetapi juga menyucikan jiwa raga serta mengembalikan berkah kehidupan bagi seluruh makhluk di bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....