Air Makin Sulit, Prajurit Kodim 1422 Maros Bersimpuh Memohon Turunnya Hujan

  • 31 Agt 2026 20:13 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi persoalan yang dihadapi sejumlah wilayah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memasuki penghujung Agustus 2026. Di tengah kondisi tersebut, prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kodim 1422/Maros memilih melakukan ikhtiar spiritual dengan menggelar Shalat Istighosah dan doa bersama untuk memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun.

Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Makodim 1422/Maros, dan diikuti jajaran prajurit serta PNS Kodim 1422/Maros, Senin 31 Agustus 2026. Shalat Istighosah dipimpin Lettu Inf Mustamin yang juga menjabat sebagai Pasi Pers Kodim 1422/Maros.

Dalam pelaksanaannya, para prajurit bersama-sama memanjatkan doa agar kondisi kekeringan yang terjadi segera berakhir. Doa juga dipanjatkan agar hujan turun di wilayah yang saat ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Lettu Inf Mustamin mengatakan, kondisi kekeringan dan Karhutla yang masih terjadi menjadi momentum bagi jajaran Kodim 1422/Maros untuk melakukan istighosah. Menurutnya, selain berbagai langkah penanganan yang dilakukan di lapangan, doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.

“Dimana sekarang kita tengah dilanda bencana nasional kekeringan musim panas serta kebakaran hutan dan lahan. Oleh karenanya, momentum ini adalah untuk memanjatkan doa agar Allah SWT memberikan pertolongan dengan menurunkan hujan,” ujar Mustamin.

Ikhtiar di Tengah Krisis Air

Kondisi kekeringan tidak hanya meningkatkan ancaman kebakaran lahan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kebutuhan masyarakat. Sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan mulai menghadapi keterbatasan sumber air.

Air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi semakin sulit diperoleh ketika sumber air mengalami penyusutan akibat berlangsungnya musim kemarau. Situasi tersebut membuat kebutuhan air bersih menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan sumber air permukaan maupun sumur untuk kebutuhan rumah tangga.

Di sisi lain, kondisi lahan yang kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, sementara api dapat dengan cepat meluas ketika kondisi cuaca panas dan kering berlangsung. Kondisi inilah yang membuat penanganan kekeringan dan Karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Dandim: Manusia Harus Tetap Berikhtiar

Komandan Kodim 1422/Maros Letkol Arm Agung Yuhono mengatakan, bencana dan kondisi alam yang terjadi merupakan bagian dari kehendak Allah SWT. Namun, menurutnya, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha menghadapi setiap persoalan yang terjadi.

Ia mengatakan, doa dan istighosah merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang dilakukan jajaran Kodim 1422/Maros di tengah kondisi kekeringan. “Semoga dengan dilaksanakannya Shalat Istighosah segera datang keajaiban hujan pada umumnya Sulawesi Selatan dan khususnya wilayah Kabupaten Maros, di mana saat ini ada beberapa tempat yang sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” harap Agung Yuhono.

Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi masyarakat yang mulai merasakan dampak kekeringan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar berupa air bersih.

Doa dan Langkah Nyata Berjalan Bersama

Istighosah yang dilakukan Kodim 1422/Maros bukan dimaksudkan sebagai satu-satunya langkah menghadapi kekeringan. Doa menjadi bagian dari ikhtiar yang dilakukan bersamaan dengan upaya penanganan di lapangan.

Di tengah ancaman Karhutla, kewaspadaan masyarakat juga menjadi faktor penting. Kondisi lahan yang kering membutuhkan perhatian lebih terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Pencegahan menjadi semakin penting karena kebakaran di lahan kering dapat berkembang dengan cepat dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun kualitas lingkungan.

Sementara bagi warga yang terdampak kekeringan, distribusi air bersih menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang harus terus diperhatikan. Kodim 1422/Maros melalui kegiatan istighosah tersebut ingin mengingatkan bahwa menghadapi bencana membutuhkan ikhtiar secara menyeluruh—baik melalui langkah nyata di lapangan maupun doa.

Penghujung Agustus pun menjadi momentum bagi jajaran Kodim 1422/Maros untuk berharap agar hujan segera turun, sumber-sumber air kembali terisi, kebutuhan masyarakat terpenuhi, dan ancaman Karhutla dapat ditekan. Bagi masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan air, turunnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi menjadi harapan untuk kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar dan mengakhiri panjangnya masa kekeringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....