Tujuh Tahun Mengabdi, Nurfadhilah Haris Kini Dipercaya Pimpin KUA

  • 21 Agt 2026 21:23 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Sebuah amanah tidak selalu datang ketika seseorang merasa telah benar-benar siap. Bagi Nurfadhilah Haris, justru kepercayaan itulah yang menjadi alasan untuk melangkah, belajar lebih banyak, dan berani mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Setelah tujuh tahun menjalani pengabdian di Toraja Utara, Nurfadhilah kini membuka lembaran baru dalam perjalanan kariernya. Ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA). Pengalaman pengabdiannya dimulai sejak 2019. Ia pernah bertugas di KUA Rantebua sebelum melanjutkan pengabdian di KUA Kecamatan Sanggalangi.

Selama berada di tengah masyarakat, ia tidak hanya menjalankan tugas pelayanan, tetapi juga belajar memahami karakter, kebutuhan, serta dinamika kehidupan masyarakat. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal berharga ketika kepercayaan untuk memimpin datang kepadanya.

“Kalau diberi amanah, berarti ada kepercayaan. Kita harus berani menjalankannya. Kepala kantor juga memberikan motivasi dan meyakinkan bahwa saya bisa,” ungkap Nurfadhilah, Jumat 21 Agustus 2026.

Ia memilih tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran bahwa dirinya telah menguasai semuanya. Sebaliknya, amanah baru tersebut justru dipandang sebagai kesempatan untuk kembali belajar dari banyak hal dan banyak orang.

Bagi Nurfadhilah, pengalaman tujuh tahun di Toraja Utara memberikan pelajaran yang jauh lebih luas dari sekadar pekerjaan administratif. Hidup dan bekerja di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda membuatnya melihat langsung bagaimana toleransi dan kerukunan dapat tumbuh melalui komunikasi serta sikap saling menghargai.

“Walaupun kita berbeda keyakinan, alhamdulillah toleransinya tinggi. Selama tujuh tahun di sana, saya merasakan kerukunan itu. Itu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya,” katanya.

Pengalaman tersebut turut membentuk cara pandangnya terhadap pelayanan publik. Menurutnya, bekerja di lingkungan Kementerian Agama bukan hanya soal menyelesaikan urusan administrasi, tetapi juga tentang bagaimana hadir di tengah masyarakat dengan sikap terbuka, memahami perbedaan, dan memberikan pelayanan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Nilai-nilai itulah yang kini ingin dibawanya ke tempat tugas yang baru. Nurfadhilah menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin tidak berarti harus mampu melakukan semuanya seorang diri.

Ia justru melihat kepemimpinan sebagai proses membangun kebersamaan, mendengarkan masukan, dan belajar dari orang-orang yang telah lebih dahulu berpengalaman. “Kita tidak harus langsung tahu semuanya. Kita belajar sambil berjalan, belajar dari yang sudah berpengalaman, kemudian memperbaiki apa yang sudah ada dan menambahkan hal-hal yang bisa membuatnya lebih baik,” tuturnya.

Pandangan tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Nurfadhilah sebagai perempuan yang kini dipercaya mengambil peran dalam kepemimpinan. Baginya, perempuan tidak harus membuktikan diri dengan bekerja sendirian.

Yang lebih penting adalah keberanian menerima tanggung jawab, kemauan untuk terus belajar, serta kemampuan membangun tim yang saling menguatkan. Perjalanan Nurfadhilah pun tidak sekadar berbicara tentang perpindahan tugas atau perubahan jabatan.

Ada pengalaman panjang, nilai-nilai kehidupan, dan proses pembelajaran yang ikut membentuk dirinya hingga berada di titik tersebut. Tujuh tahun di Toraja Utara telah mengajarkannya tentang arti pengabdian, keberagaman, toleransi, dan pentingnya bekerja bersama.

Di balik kebahagiaan menerima amanah baru, terselip pula rasa haru. Meninggalkan tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdian selama bertahun-tahun tentu bukan perkara mudah.

Namun, ia memahami bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri. Ada saatnya bertahan, ada pula saatnya melangkah menuju tanggung jawab yang baru.

Kini, Nurfadhilah membawa pengalaman dari Toraja Utara menuju ruang pengabdian yang berbeda. Ia membawa kepercayaan sebagai modal, sekaligus kesadaran bahwa perjalanan belajar belum berakhir.

Sebagai Kepala KUA, ia ingin tumbuh bersama tim, dekat dengan masyarakat, terbuka terhadap perubahan, dan terus menghadirkan pelayanan yang lebih baik. Sebab baginya, amanah bukan tentang siapa yang paling siap, tetapi tentang siapa yang bersedia belajar, bertanggung jawab, dan terus memberikan yang terbaik ketika kepercayaan itu diberikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....