Pengamat HI Unhas: Dilema Bebaskan Sandera Pelaut Gowa

  • 21 Agt 2026 08:29 WIB
  •  Makassar
Poin Utama
  • Pembayaran tebusan memicu dilema moral karena menyuburkan aksi perompakan.
  • Operasi militer membawa risiko fatal terhadap keselamatan jiwa para sandera.
  • Negosiasi diutamakan secara maksimal sedangkan tebusan menjadi opsi terakhir.

RRI.CO.ID, MAKASSAR - Penyanderaan belasan pelaut termasuk warga asal Sulawesi Selatan oleh perompak Somalia menghadirkan dilema pelik bagi negara. Di satu sisi penyelesaian cepat sering kali bersinggungan dengan tuntutan tebusan ekonomi yang diajukan para pelaku non-negara.

Pembayaran tebusan menurut pengamat hubungan Intenasional Unhas Makassr Dr Ishak Rahman diwaancara RRI Makassar kamis malam 20/08/2026, dikhawatirkan dapat menyuburkan praktik kejahatan serupa di masa mendatang karena memberikan insentif finansial bagi perompak. Namun di sisi lain, opsi pengerahan operasi militer juga menyimpan risiko besar terhadap keselamatan jiwa sandera.

"Dilema pertama yang kita hadapi adalah kalau suatu pemerintah ingin agar supaya persoalannya cepat selesai, maka dia membayar tebusan. Tetapi kita berhadapan dengan dilema kedua, yaitu memberikan tebusan sama saja menyuburkan praktik-praktik seperti ini," ungkap Dr. Ishak Rahman.

Tawaran lampu hijau dari pemerintah Somalia untuk operasi militer sebenarnya memberikan peluang bagi pembebasan secara paksa. Kendati demikian, langkah tersebut dinilai sangat berisiko tinggi karena medan yang tidak familiar serta ancaman eksekusi dari para perompak.

"Operasi militer itu mempunyai risiko terhadap keselamatan yang paling tinggi bagi para pelaut yang disandera. Di dalam prinsip militer, upaya pembebasan bisa berdampak negatif dengan hilangnya nyawa karena para perompak bisa melakukan upaya dengan membunuh sandera," jelasnya.

Kompleksitas aktor non-negara dalam kejahatan maritim menuntut kehati-hatian luar biasa dari otoritas terkait dalam merumuskan strategi penindakan. Pembayaran tebusan diposisikan sebagai langkah paling akhir apabila seluruh instrumen diplomasi damai telah menemui jalan buntu.

"Sehingga penyelesaian dalam kasus ini, upaya dengan membayar tebusan itu mungkin merupakan upaya di bagian-bagian akhir barangkali dan bukan seharusnya menjadi pilihan utama. Pilihan pertama yang harus dikedepankan adalah memperkuat diplomasi dan negosiasi," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....