Benarkah Angka 4 pada Lantai Hotel Bawa sial? ini Penjelasannya

  • 29 Jul 2026 09:33 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Lantai pada hotel bertingkat umumnya disusun secara berurutan agar memudahkan tamu menemukan kamar dan fasilitas. Namun, ada satu hal yang sering membuat tamu bertanya, yaitu mengapa beberapa hotel tidak memiliki lantai 4. Fenomena ini bukan kesalahan desain atau penghematan ruang, melainkan bagian dari strategi penomoran yang dipengaruhi budaya, psikologi tamu, dan pertimbangan bisnis. Praktik tersebut paling banyak ditemukan di hotel yang melayani tamu dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, meskipun tidak semua hotel menerapkannya.

Alasan utama hilangnya angka 4 berkaitan dengan tetraphobia, melansir wikipedia.org yaitu kepercayaan bahwa angka 4 membawa kesialan. Dalam bahasa Mandarin, Kanton, Jepang, dan Korea, pelafalan angka empat memiliki kemiripan dengan kata yang berarti "kematian". Kesamaan bunyi ini membuat angka 4 sering dihindari dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari nomor rumah, nomor telepon, hingga penomoran lantai bangunan. Karena hotel bergantung pada kenyamanan dan persepsi tamu, banyak pengelola memilih menghilangkan angka tersebut agar tamu tidak merasa tidak nyaman selama menginap.

Di banyak hotel, lantai fisik keempat sebenarnya tetap ada, tetapi nomor yang ditampilkan di panel lift diubah menjadi 3A, 5, atau nama khusus seperti fasilitas hotel. Hal ini berarti tidak ada ruang yang hilang dari bangunan. Perubahan hanya terjadi pada sistem penomoran. Praktik serupa juga berlaku untuk nomor kamar. Beberapa hotel tidak memiliki kamar bernomor 404, 414, atau 444 karena dianggap kurang diminati oleh sebagian tamu yang masih memegang kepercayaan tersebut.

Strategi industri perhotelan menjadi dasar hotel di wilayah yang banyak menerima wisatawan Asia lebih sering menghilangkan angka 4 dibandingkan hotel yang mayoritas melayani tamu Barat. Tamu dari budaya Tionghoa cenderung lebih merasa tidak nyaman ketika ditempatkan di lantai atau kamar bernomor 4 dibandingkan tamu dari negara Barat.

Penghapusan angka 4 lebih didorong oleh persepsi psikologis daripada faktor keselamatan. Dalam dunia pemasaran jasa, persepsi pelanggan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hotel sering memilih menyesuaikan penomoran bangunan karena biaya perubahan sangat kecil dibandingkan potensi hilangnya pelanggan yang enggan menempati kamar atau lantai tertentu.

Fenomena hilangnya lantai 4 memperlihatkan bahwa desain hotel tidak hanya mempertimbangkan aspek teknik bangunan, tetapi juga memperhatikan latar belakang budaya tamu. Di kawasan Asia, angka 4 sering dihindari, sedangkan di banyak negara Barat hotel lebih sering menghilangkan angka 13 karena kepercayaan terhadap triskaidekafobia. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa industri perhotelan global terus menyesuaikan diri dengan karakteristik pasar yang dilayaninya agar pengalaman menginap terasa lebih nyaman bagi berbagai kelompok tamu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....