Pengasuhan Berbasis Fitrah Dinilai Mampu Optimalkan Potensi Anak

  • 28 Jun 2026 19:54 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Konsep parenting fitrah (pengasuhan yang berakar pada keyakinan bahwa setiap anak terlahir dengan potensi bawaan baik (fitrah)), dinilai memiliki pendekatan yang berbeda dengan berbagai pola pengasuhan yang berkembang di sejumlah negara. Parenting fitrah menitik beratkan pada desain (rencana) kehidupan yang diyakini telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak manusia berada dalam kandungan.

Al Nur Fatmawati Abd. Fattah, S.S., C.HTh - Founder STIFIn Education, Anthurium Foundation, Silver Shiny Corporation dalam dialog Apresiasi Budaya Lokal di Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 26 Juni 2026, menjelaskan bahwa setiap manusia telah dibekali potensi, karakter, dan kecenderungan yang berbeda-beda sejak lahir. Potensi tersebut merupakan fitrah yang perlu dikenali dan dikembangkan agar seseorang dapat menjalani kehidupan sesuai dengan tujuan penciptaannya.

"Parenting fitrah itu by design (direncanakan sejak awal ), tetapi bukan berdasarkan desain (rencana) orang tua atau keinginan anak. Desainnya (rencananya) adalah sebagaimana yang Allah SWT tetapkan. Sejak dalam kandungan, setiap manusia sudah dibekali potensi dan karakter masing-masing," jelasnya.

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi orang tua adalah tidak adanya panduan yang secara otomatis dimiliki saat membesarkan anak. Akibatnya, banyak orang tua menerapkan pola pengasuhan yang sama seperti yang mereka terima dari generasi sebelumnya, tanpa memahami apakah cara tersebut benar-benar sesuai dengan fitrah anak.

"Alhamdulillah, saat ini sudah ada ilmu yang membantu mengenali fitrah tersebut sehingga seseorang dapat menjalani hidup sesuai dengan potensinya. Jika hidup tidak sesuai fitrah, ibarat melawan arus, tentu akan terasa lebih berat, pemahaman terhadap fitrah dapat menjadi panduan bagi setiap individu untuk mengembangkan potensi diri secara optimal", ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap individu memiliki gaya belajar, kecenderungan, dan keunggulan yang berbeda. Potensi tersebut, menurutnya, dapat dikenali melalui berbagai pendekatan, seperti analisis sidik jari, retina mata, maupun metode lain yang berkaitan dengan fungsi otak.

Lebih lanjut, ia mengaitkan hal tersebut dengan ajaran Islam. Menurutnya, keunikan setiap manusia telah dijelaskan dalam Al-Qur'an, termasuk mengenai pentingnya sidik jari sebagai identitas yang berbeda pada setiap individu. "Setiap manusia memiliki pola yang berbeda. Dari pola itulah kita bisa mengetahui kecenderungan dan potensi yang dominan dalam dirinya," katanya.

Selain potensi bawaan, ia juga menekankan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang harus dipenuhi sejak dini. Kebutuhan tersebut meliputi perhatian, pengakuan, penghargaan, dan kasih sayang, apabila kebutuhan tersebut terpenuhi dengan baik, anak akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, mampu menjalin hubungan sosial yang positif, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.

"Semua orang memiliki kebutuhan psikologis yang sama, yaitu perhatian, pengakuan, penghargaan, dan kasih sayang. Kebutuhan itu tidak akan pernah hilang hingga seseorang dewasa. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan emosional sejak masa kanak-kanak menjadi fondasi penting dalam membentuk kepribadian yang sehat”, ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa kurangnya pemenuhan kebutuhan psikologis sejak masa kanak-kanak dapat memengaruhi kehidupan seseorang di kemudian hari, termasuk dalam hubungan rumah tangga. Anak yang jarang mendapatkan apresiasi atau pengakuan dari orang tua cenderung tumbuh dengan kebutuhan validasi yang tinggi.

"Ketika kecil seseorang tidak pernah dihargai atau diakui, maka saat menikah ia berharap pasangannya dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, jika pasangan juga memiliki luka yang sama, justru akan muncul konflik baru karena masing-masing membawa luka masa lalu yang belum selesai," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....