Pakar Hukum Islam UMI Minta Orang Tua Jadi Teladan Bagi Anak

  • 27 Jun 2026 06:57 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR - Tanggung jawab pengawasan anak di era digital saat ini bukan lagi menjadi beban satu pihak saja, melainkan komitmen penuh dari orang tua. Di tengah gempuran teknologi informasi, tantangan mendidik anak kini telah bergeser dari pengawasan fisik ke pengawasan dunia virtual. Isu krusial ini dikupas secara mendalam dalam program dialog Nuansa Fajar RRI Pro 4 RRI Makassar, jum'at 26 Juni 2026.

Dr. Ardi, S.H., M.H., dosen Fakultas Agama Islam sekaligus Sekretaris Prodi Hukum Keluarga UMI, menyatakan bahwa media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi digital mampu memberikan dampak positif seperti membantu anak fasih berbahasa asing secara otodidak. Namun di sisi lain, ruang digital juga menyimpan bahaya laten seperti paparan judi online, pornografi, hingga perundungan.

Menurutnya, banyak orang tua yang menuntut anak-anak mereka untuk berhenti bermain gawai, namun mereka sendiri tidak memberikan contoh yang baik. Di dalam rumah sering kali tercipta standar ganda, di mana aturan ketat hanya berlaku untuk anak sementara orang tua bebas berselancar di media sosial sepanjang hari. Hal inilah yang membuat pesan atau nasihat dari orang tua sering kali tidak didengar oleh anak.

Dalam hukum Islam, anak dipandang sebagai sebuah amanah besar yang kelak pertanggungjawabannya akan dimintai langsung oleh Sang Pencipta. Mendidik anak bukan hanya sebatas mencukupi kebutuhan materi, sandang, pangan, dan fasilitas sekolah formal saja. Lebih dari itu, orang tua memiliki kewajiban moral untuk memastikan bahwa konsumsi spiritual dan digital anak-anak mereka tetap bersih dan sehat.

Pakar Hukum Islam UMI tersebut memberikan penegasan kuat mengatakan, "Orang tua itu harus menjadi uswah, menjadi teladan. Sulit meminta anak mengurangi media sosial jika orang tuanya sendiri setiap lima menit itu periksa notifikasi. Jadi anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Yang kita lakukan bukan menjauhkan mereka dari teknologi, tetapi membekali mereka dengan nilai-nilai Islam agar mampu menggunakan teknologi secara bijak." Ujar Ardi.

Untuk mengatasi masalah ini, pihak keluarga disarankan mulai membangun komunikasi yang setara dengan memposisikan diri sebagai sahabat bagi anak. Ketika anak merasa nyaman dan dekat dengan orang tuanya, mereka akan lebih terbuka untuk menceritakan masalah yang dihadapi di dunia maya. Selain itu, pembuatan aturan bersama di rumah seperti larangan memegang gawai saat makan bersama juga sangat diperlukan.

Melalui momentum dialog ini, masyarakat diingatkan kembali bahwa kecerdasan buatan (AI) dan teknologi masa depan tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan keluarga. Sentuhan fisik, perhatian tulus, serta doa yang tulus dari orang tua adalah benteng pertahanan terbaik bagi anak. Peran aktif orang tua sebagai teladan utama menjadi kunci sukses menyelamatkan generasi muda dari dampak negatif media sosial.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....