Mukjizat Laut Merah Selamatkan Nabi Musa dan Kaumnya

  • 23 Jun 2026 12:54 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Sejarah mencatat salah satu peristiwa paling monumental dalam peradaban manusia kuno, yakni selamatnya Nabi Musa Alaihissalam beserta kaum Bani Israil dari kejaran pasukan Fir’aun. Peristiwa heroik yang penuh mukjizat ini membuktikan kemenangan hak atas batil, dan terjadi tepat pada tanggal 10 Muharram ribuan tahun silam di kawasan Laut Merah.

Dikutip dari almanhaj.or.id Sebuah riwayat menyebutkan bahwa, kisah Nabi Musa memimpin kaumnya keluar dari wilayah Mesir demi menghindari penindasan kejam yang dilakukan oleh penguasa yang mengklaim dirinya sebagai tuhan yaitu Fir’aun. Mengetahui budak-budaknya melarikan diri, Fir’aun yang diselimuti murka langsung mengerahkan seluruh kekuatan militer terbaiknya untuk mengejar dan membinasakan rombongan tersebut.

Pengejaran yang melelahkan itu mencapai puncaknya di tepi Laut Merah. Kaum Bani Israil didera kepanikan luar biasa karena posisi mereka benar-benar terjepit. Di hadapan mereka terbentang lautan yang dalam dan luas, sementara di belakang mereka debu berterbangan akibat derap kaki kuda dan kereta perang pasukan Fir’aun yang semakin mendekat.

Dalam situasi kritis yang tampaknya mustahil untuk selamat tersebut, kedalaman iman Nabi Musa diuji. Alih-alih ikut panik bersama kaumnya, beliau dengan penuh keyakinan menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Keyakinan mutlak ini terekam abadi dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 61-62:

"Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'"

Sesaat setelah pernyataan iman tersebut, mukjizat pun turun atas perintah Sang Pencipta. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan air laut. Berdasarkan riwayat yang sahih, laut tersebut seketika terbelah menjadi dua belas jalur, dengan dinding-dinding air yang berdiri kokoh laksana gunung di sisi kanan dan kirinya, membuka jalan setapak yang kering.

Nabi Musa dan seluruh pengikutnya segera berlari melintasi jalan mukjizat tersebut dengan perasaan takjub bercampur haru. Melihat jalur yang terbuka, Fir’aun dengan kesombongannya tanpa ragu memerintahkan pasukannya untuk ikut merangsek masuk dan mengejar hingga ke tengah-tengah belahan laut, mengira bahwa alam pun berpihak kepadanya.

Namun, takdir berkata lain bagi sang penguasa zhalim. Tepat setelah orang terakhir dari Bani Israil berhasil menginjakkan kaki di daratan seberang, Allah mengembalikan air laut seperti sediakala. Gelombang raksasa yang sangat dahsyat langsung runtuh, menggulung, dan menenggelamkan Fir’aun beserta seluruh bala tentaranya tanpa ada satu pun yang tersisa.

Peristiwa dramatis yang terjadi pada hari Asyura (10 Muharram) ini kemudian menjadi hari kemenangan yang sakral. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi setempat berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa. Sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

"Nabi SAW datang ke Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya, 'Hari apa ini?' Mereka menjawab, 'Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Musa berpuasa pada hari itu.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.' Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa."

Hingga hari ini, setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam di seluruh dunia memperingati momentum tersebut dengan menjalankan ibadah puasa sunnah Asyura. Kisah ini tidak sekadar menjadi catatan sejarah kuno, melainkan sebuah refleksi abadi bahwa kekuatan tirani sebesar apa pun akan runtuh di hadapan pertolongan dan keadilan Allah bagi hamba-Nya yang bersabar.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....