Khutbah Jumat RRI Makassar Bahas Kemurnian Tauhid
- 19 Jun 2026 16:28 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Makassar kembali menyiarkan secara langsung ibadah khutbah dan salat Jumat dari Masjid Al Muawanah RRI Makassar melalui Stasiun Pro 1 dan Pro 4 pada Jumat 19 Juni 2026, Bertindak sebagai khatib, Ustaz H. Gunawan Mustakim, S.Pd.I., M.M., membawakan khutbah menyentuh hati dengan mengangkat tema penting mengenai Kemurnian Tauhid.
Mengawali khutbahnya, Ustaz Gunawan mengingatkan jemaah mengenai kemuliaan hari Jumat sebagai penghulu segala hari (Sayyidul Ayyam). Beliau menegaskan bahwa kehadiran para jemaah di dalam masjid merupakan pemenuhan undangan langsung dari Allah SWT yang kedudukannya jauh mengalahkan undangan para raja di dunia.
Ketika azan Jumat telah berkumandang, umat Islam diperintahkan untuk segera meninggalkan segala urusan duniawi, termasuk aktivitas jual beli, demi bersujud kepada Pencipta alam semesta. "Wahai orang-orang yang beriman, tatkala telah diperdengarkan seruan untuk hari Jumat, maka bersegeralah dan tinggalkan seluruh urusan, utamanya jual dan beli. Maka dengan adanya kita duduk dalam majelis ini adalah bukti dan jawaban dari seruan Allah SWT, dan menjadi keutamaan bagi kita semua di hari yang mulia ini," ujar Ustaz Gunawan dalam khutbahnya.
Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa kemurnian tauhid yang dirangkum dalam kalimat Laa Ilaha Illallah merupakan inti dari risalah yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi. Kalimat ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan kunci utama untuk membuka pintu surga. Begitu dahsyatnya bobot kalimat tauhid ini, hingga dalam sebuah hadis riwayat Imam Abu Daud digambarkan bahwa andai tujuh lapis langit dan bumi ditimbang dengan kalimat Laa Ilaha Illallah, maka kalimat tersebut akan jauh lebih berat nilainya.
Ustaz Gunawan kemudian mengisahkan sebuah refleksi mendalam mengenai betapa beratnya menjaga hidayah tauhid, berkaca dari kisah paman Rasulullah SAW, Abu Thalib. Menjelang wafatnya, Rasulullah datang dan memohon dengan sangat agar pamannya mengucapkan kalimat penyelamat tersebut. Namun, Abu Thalib enggan mengucapkannya bukan karena tidak paham maknanya, melainkan karena terpengaruh oleh tekanan sosial dari lingkungan pertemanan yang buruk di sekitarnya, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab.
"Abu Thalib adalah seseorang yang salah duduk, mengambil teman yang salah, dan lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap ketauhidan seseorang, berhati-hatilah. Sungguh, wahai Muhammad, kamu tidak memiliki kemampuan memberikan hidayah, tetapi hidayah itu datangnya dari Allah SWT yang dikehendaki-Nya," tutur ustad Gunawan mengingatkan jemaah akan pentingnya menjaga lingkungan pergaulan.
Sebagai umat Muslim yang mendirikan salat, kalimat tauhid ini sejatinya rutin diikrarkan minimal 17 kali dalam sehari melalui bacaan syahadat dalam salat wajib. Oleh karena itu, Ustaz Gunawan memberikan pesan kuat kepada seluruh jemaah agar menjadikan kalimat Laa Ilaha Illallah sebagai warisan terbaik yang ditinggalkan untuk keluarga, melebihi warisan harta benda seperti ruko, kendaraan, ataupun kebun yang kerap kali memicu perdebatan di akhir hayat.
Mengakhiri khutbahnya, khatib mengajak jemaah untuk berwasiat kepada istri dan anak-anak tercinta agar senantiasa mendampingi dan menuntun dengan kalimat tauhid ketika sakaratulmaut tiba. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, barangsiapa yang akhir hayatnya mengucapkan Laa Ilaha Illallah, maka ia dijamin masuk surga. Penyiaran khutbah Jumat secara luas oleh RRI Pro 1 dan Pro 4 Makassar ini diharapkan dapat menjadi syiar yang memperkokoh kemurnian akidah dan tauhid masyarakat Sulawesi Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....