Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan Utama di Dalamnya
- 16 Mei 2026 21:38 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat mulia dalam kalender Hijriah karena termasuk ke dalam kelompok asyhurul hurum atau bulan-bulan yang disucikan. Bersama dengan bulan Dzulqadah, Muharram, dan Rajab, Dzulhijjah memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT, di mana umat Muslim dilarang keras melakukan kemaksiatan, kezaliman, ataupun peperangan, serta dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah. Kedudukan agung ini diisyaratkan secara tegas oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an melalui Surah At-Taubah ayat 36, yang menyatakan bahwa ketetapan bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan sejak penciptaan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram sebagai landasan agama yang lurus, sehingga manusia dilarang menganiaya diri mereka sendiri di dalamnya.
Penjelasan mengenai pembagian dan urutan keempat bulan haram tersebut merujuk pada kitab Tafsir Ibnu Katsir yang mengambil sumber sahih dari hadis Imam Ahmad. Dikisahkan bahwa ketika Rasulullah SAW sedang menunaikan ibadah Haji Wada' yang terakhir, beliau menyampaikan khotbah penting di hadapan para sahabat. Beliau bersabda bahwa zaman telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah SWT pertama kali menciptakan langit dan bumi, di mana satu tahun terdiri atas dua belas bulan dengan empat bulan di antaranya adalah bulan suci; tiga bulan jatuh secara berturut-turut yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan satu bulan lainnya adalah Rajab Mudar yang terletak terpisah di antara bulan Jumadil Akhir dan Sya'ban.
Dikutip dari situs resmi mui.or.id dijelaskan bahwa dari Sebagai bulan yang penuh dengan pancaran rahmat, Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menghidupkan hari-hari di bulan Dzulhijjah dengan berbagai macam amal saleh dan ritual ibadah tertentu. Keagungan bulan ini bahkan disejajarkan dengan bulan suci Ramadhan dalam hal jaminan pahala yang melimpah bagi siapa saja yang mengisinya dengan kebajikan. Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW secara eksplisit menegaskan bahwa ada dua bulan hari raya yang pahala amalnya tidak akan pernah berkurang di sisi Allah SWT, yaitu bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.
Salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan pada awal bulan Dzulhijjah adalah melaksanakan ibadah puasa sunah, khususnya dari tanggal 1 hingga tanggal 9 Dzulhijjah. Secara spesifik, puasa pada tanggal 1 sampai 7 Dzulhijjah lazim disebut sebagai puasa Dzulhijjah, dilanjutkan dengan puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah, dan dipuncaki dengan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang memiliki keutamaan menghapuskan dosa. Keutamaan beramal saleh pada sepuluh hari pertama ini dinilai luar biasa, bahkan berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas RA, pahalanya disebut lebih utama daripada berjuang di jalan Allah (jihad fi sabilillah), kecuali bagi seorang pejuang yang mengorbankan seluruh jiwa beserta hartanya di medan perang dan tidak pernah kembali lagi karena mati syahid.
| Baca juga: Juni Bulan Bung Karno dalam Sejarah |
Selain ibadah puasa, umat Muslim yang memiliki kelapangan rezeki juga disyariatkan untuk melaksanakan ibadah penyembelihan hewan qurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, serta pada tiga hari tasyrik berikutnya. Ibadah qurban ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah bentuk refleksi historis untuk mengenang kembali potret ketaatan mutlak Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, terhadap perintah Allah SWT. Syariat mulia ini ditegaskan oleh Allah dalam beberapa firman-Nya, di antaranya melalui Surah Al-Kautsar ayat 2 yang memerintahkan manusia untuk mendirikan shalat dan berqurban, serta Surah Al-Hajj ayat 34 yang menjelaskan bahwa qurban disyariatkan agar setiap umat menyebut nama Allah atas rezeki berupa hewan ternak yang telah dikaruniakan.
Perintah berqurban ini membawa hukum penekanan yang sangat kuat (sunnah muakkadah) dan ditujukan khusus bagi mereka yang telah memenuhi syarat kemampuan secara finansial untuk membeli hewan sembelihan. Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas dan keras kepada umatnya yang egois, kikir, dan enggan berbagi melalui ibadah qurban padahal mereka memiliki kemampuan material yang cukup. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW secara lugas bersabda bahwa barangsiapa yang mempunyai keluasan rezeki namun memilih untuk tidak berqurban, maka janganlah ia sekali-kali berani mendekati atau menghampiri tempat shalat Idul Adha kaum Muslimin.
Puncak dari seluruh rangkaian kemuliaan di bulan Dzulhijjah ditandai dengan pelaksanaan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima sekaligus penutup dari seluruh pilar agama bagi umat Muslim yang mampu secara fisik, mental, dan finansial. Allah SWT memanggil hamba-hamba-Nya dari seluruh penjuru dunia untuk berkumpul di tanah suci Makkah guna melaksanakan rangkaian manasik yang agung ini, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hajj ayat 27 yang memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia mengerjakan haji agar mereka datang dengan berjalan kaki maupun mengendarai unta yang kurus dari tempat yang jauh. Dengan demikian, Dzulhijjah hadir sebagai momentum emas yang memadukan kesempurnaan ibadah haji, kesucian puasa, keikhlasan qurban, dan pelipatgandaan pahala dalam satu ruang waktu yang penuh berkah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....