Larangan Bersikap Sombong dan Merendahkan Orang Lain
- 15 Mei 2026 13:43 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – RRI Makassar melalui kanal Pro 1 dan Pro 4 menyiarkan secara langsung khutbah Jumat, 15 Mei 2026 dari masjid Al Muawanah RRI Makassar yang sarat akan pesan moral dan spiritual. Dalam kesempatan tersebut, Ust. Zubair Jamaluddin, S.Pd., M.A. menyampaikan khutbah bertema "Larangan Bersikap Sombong dan Merendahkan Orang Lain dalam Perspektif Islam".
Ia menekankan bahwa di hadapan Allah SWT, semua manusia diciptakan dalam derajat yang setara, tanpa memandang kesempurnaan fisik, harta, maupun pangkat jabatan yang tinggi. Dalam uraiannya, Ustadz Zubair menjelaskan bahwa indikator kemuliaan seseorang bukanlah kelebihan duniawi yang nampak, melainkan ketakwaan yang tersembunyi di dalam hati. Merujuk pada hadits riwayat Muslim, ia mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan jasad, melainkan hati dan amal perbuatan. Hal ini menjadi teguran keras bagi mereka yang sering merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena atribut sosial yang melekat pada dirinya.
Khotib juga menyoroti fenomena sosial di mana banyak orang saat ini terlalu sibuk mencari pengakuan atau validasi dari sesama manusia. Menurutnya, upaya terus-menerus untuk memoles citra agar dianggap mulia di mata khalayak justru bisa mendatangkan kehinaan dari Allah SWT. Ia menegaskan bahwa siapapun yang sombong atas kecerdasan atau kekayaan yang diberikan, maka Allah memiliki kuasa mutlak untuk merendahkannya seketika.
"Barang siapa yang takabur, lalu Allah bukakan untuknya dunia dan ia sombong dengan dunia itu, maka pasti Allah akan menghinakan dia walaupun dia sibuk memperbaiki namanya di hadapan orang banyak," tegas Ust. Zubair dalam khutbahnya.
Lebih lanjut, jamaah diajak untuk merenungkan hakikat kehidupan yang bagaikan roda berputar. Apa yang dimiliki manusia saat ini, baik itu jabatan maupun harta, dapat dicabut oleh Allah dalam sekejap mata. Ustadz Zubair mengingatkan agar manusia tidak terbuai dengan kondisi saat ini, karena kemuliaan di dunia bersifat fana dan tidak menjamin keselamatan di akhirat, sebagaimana kisah Abu Lahab yang hartanya tidak bermanfaat sedikitpun di hadapan Allah.
Sebagai teladan ketawaduan, Ustadz Zubair menceritakan kisah mengharukan saat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ditusuk saat mengimami shalat. Meski merupakan sahabat yang dijamin masuk surga, Umar justru meminta anaknya, Abdullah bin Umar, untuk meletakkan kepalanya yang mulia di atas tanah saat ia sedang sekarat. Hal ini menunjukkan betapa besarnya rasa takut dan rendah hati seorang pemimpin besar Islam di hadapan Sang Pencipta.
"Letakkan kepalaku di atas tanah, jangan engkau angkat. Itulah sikap Umar bin Khattab, seorang yang dijamin surga namun tidak menghendaki ketinggian untuk dihormati, sementara kita yang tidak memiliki jaminan justru sering merasa paling pantas dihargai," pungkasnya.
Menutup khutbahnya, ia mengajak para jamaah untuk menanamkan rasa khawatir terhadap amal yang telah dilakukan agar tidak menjadi sia-sia. Surga Allah digambarkan sebagai barang dagangan yang sangat mahal harganya dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang rendah hati serta tidak mengejar pujian manusia. Hidup yang berkah adalah hidup yang dijalani dengan penuh ketundukan dan kesadaran bahwa segala kelebihan hanyalah titipan sementara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....