Konghucu Ajarkan Bakti sebagai Pondasi Kerukunan dan Perdamaian

  • 10 Mei 2026 23:48 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Agama Konghucu mengajarkan bahwa perdamaian dunia hanya bisa tercapai jika dimulai dari perubahan diri sendiri, bukan dengan menuntut perubahan dari orang lain. Prinsip ini disampaikan Erfan Sutono Nio, S.Ft., Physio., M.H., tokoh muda Konghucu sekaligus Wakil Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB Kota Makassar, dalam program Mimbar Agama Konghucu di RRI Pro 1 Makassar, Sabtu, 9 Mei 2026.

Erfan mengungkapkan bahwa inti ajaran sosial Konghucu bertumpu pada prinsip emas yang menjadi panduan hidup umatnya dalam berinteraksi dengan sesama. Prinsip ini juga menjadi dasar ibadah Qing He Ping atau hari persaudaraan dalam agama Konghucu.

"Bila diri ingin tegak, maka bantulah orang lain tegak. Bila diri ingin maju, maka bantulah orang lain maju. Agama Konghucu tidak hanya menitikberatkan bagaimana kita maju dengan meninggalkan orang lain," ujar Erfan.

Ia menjelaskan bahwa ajaran Konghucu mendorong umatnya untuk terlebih dahulu memeriksa diri sendiri sebelum menilai orang lain. Sebuah ayat dalam kitab suci Konghucu menegaskan prinsip ini dengan jelas.

"Bila saya melihat orang yang tidak bijaksana, maka saya akan memeriksa ke dalam diri saya sendiri. Tetapi ketika saya melihat orang yang melakukan kebajikan, maka saya akan berusaha menyamainya," kata Erfan mengutip ajaran Nabi Konghucu.

Erfan menekankan bahwa keselarasan sosial dalam pandangan Konghucu dibangun dari unit terkecil yaitu keluarga, kemudian berkembang ke komunitas RT, RW, kota, negara, hingga dunia. Keluarga yang tertata dengan nilai bakti adalah fondasi terbentuknya masyarakat yang harmonis.

"Agama Konghucu tidak menuntut orang lain, tetapi menuntut kepada diri kita sendiri bagaimana untuk lebih berbuat baik. Diri sendiri mampu berbuat baik, orang-orang yang lain pun berpikir bahwa kita mampu berbuat baik," ungkap Erfan.

Ia juga menekankan bahwa dalam agama Konghucu dikenal konsep xing atau watak sejati, yaitu sifat bawaan setiap manusia yang mencakup cinta kasih, kebenaran, susila, bijaksana, dan dapat dipercaya. Watak sejati inilah yang membedakan manusia dari makhluk Tuhan lainnya.

"Memasang hio, memasang dupa bukan hanya untuk dilihat orang lain. Tetapi lebih daripada itu ada suatu rasa di dalam diri kita yang mampu kita pegang teguh sehingga nilai-nilai agama ini benar-benar mampu keluar dari dalam diri kita," tegas Erfan.

Erfan menutup paparan dengan mengibaratkan latihan bakti seperti berlatih kungfu yang harus dilakukan setiap hari agar nilai-nilainya bisa keluar secara alami, dan menegaskan bahwa rohani manusia pun perlu diberi makan melalui perbuatan kebajikan yang tulus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....