Qingming hingga Dong Zhi, Siklus Ibadah Bakti Umat Konghucu
- 10 Mei 2026 23:46 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Umat Konghucu menjalani sekitar empat belas hingga enam belas hari persembahyangan dalam setahun sebagai wujud konkret laku bakti, baik kepada Tuhan maupun kepada leluhur. Penjelasan ini disampaikan Erfan Sutono Nio, S.Ft., Physio., M.H., tokoh muda Konghucu sekaligus Wakil Sekretaris FKUB Kota Makassar, dalam program Mimbar Agama Konghucu di RRI Pro 1 Makassar, Sabtu, 9 Mei 2026.
Erfan menjelaskan bahwa ibadah dalam agama Konghucu terbagi dalam dua kategori besar, yaitu ibadah sujud syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atau Huang Tian Shang Di, dan ibadah bakti kepada leluhur serta sesama. Siklus ibadah ini mengikuti pergantian empat musim sepanjang tahun.
"Kalau bukan ibadah sujud syukur kepada Tuhan, maka ibadah dalam agama Konghucu adalah ibadah bakti. Bakti kepada leluhur, bakti kepada orang tua, bakti kepada sesama, dan bakti kepada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita," kata Erfan.
Ia merinci siklus ibadah tahunan tersebut. Memasuki musim semi, umat Konghucu merayakan Tahun Baru Imlek sebagai ibadah syukur. Musim panas ditandai dengan ibadah Duan Yang atau Festival Peh Cun yang identik dengan kue bak cang. Musim gugur dirayakan dengan Zhong Qiu atau festival kue bulan, sementara musim dingin disambut dengan ibadah Dong Zhi yang identik dengan onde-onde sebagai simbol penghangat tubuh.
Selain siklus musiman, Erfan menyebutkan dua ibadah bakti kepada leluhur yang utama dalam setahun. Pertama adalah Qingming sekitar bulan ketiga, yaitu tradisi ziarah kubur yang baru berlangsung pada April lalu. Kedua adalah Zhongyuan pada bulan ketujuh penanggalan Tionghoa sebagai persembahyangan lanjutan kepada leluhur.
"Walaupun orang tua telah pergi jauh, telah meninggal, anak-anaknya yang sudah ada di luar kota bahkan di luar negeri pasti akan pulang untuk berziarah ke kuburan orang tuanya. Ini sebagai bukti bagaimana umat Konghucu sangat memegang teguh persoalan bakti," ungkap Erfan.
Ia juga menyebutkan tradisi masa berkabung selama tiga tahun yang dahulu dijalankan umat Konghucu ketika orang tua meninggal. Selama masa itu, mereka tidak merayakan Imlek, tidak memakai pakaian berwarna merah, dan menjauhi pesta pora.
"Ini maknanya untuk membuktikan bahwa ada rasa sedih, ada rasa kehilangan yang mendalam ketika orang tua atau leluhur telah pergi. Ini menjadi bukti bahwa berbakti bukan hanya sekedar ketika orang tua masih hidup," tegas Erfan.
Erfan menegaskan bahwa keseluruhan siklus ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan nilai bakti yang hidup dan terus dijaga oleh umat Konghucu dalam setiap fase kehidupan mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....