Mengenal Limerence, Ketertarikan Emosional yang Berbeda dari Cinta

  • 23 Apr 2026 21:15 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Istilah limerence merujuk pada kondisi ketertarikan emosional yang intens dan cenderung obsesif terhadap seseorang, namun berbeda dengan cinta pada umumnya. Dikutip dari psychologytoday.com, Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dorothy Tennov dalam bukunya Love and Limerence pada 1979. Limerence menggambarkan keinginan kuat untuk dicintai oleh orang lain, yang sering kali disertai ketidakpastian apakah perasaan tersebut akan terbalas.

Dalam kondisi ini, seseorang dapat mengalami pikiran obsesif terhadap “objek limerent”, yakni individu yang menjadi pusat perhatian emosionalnya. Mereka cenderung menilai orang tersebut secara berlebihan, serta terus-menerus menganalisis setiap interaksi untuk mencari tanda-tanda timbal balik.

Secara emosional, limerence dapat memicu perasaan euforia, gugup, hingga kecemasan berlebihan. Secara fisik, kondisi ini juga dapat menimbulkan gejala seperti jantung berdebar, wajah memerah, dan kesulitan berkonsentrasi. Berbeda dengan cinta, limerence tidak selalu melibatkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Fokus utamanya adalah pada harapan akan balasan perasaan, bukan pada hubungan yang sehat atau berkelanjutan.

Menurut Tennov, limerence umumnya berlangsung dalam tiga tahap, yakni fase ketertarikan awal, fase intensitas emosional (kristalisasi), dan fase penurunan. Kondisi ini dapat berakhir ketika perasaan terbalas, hilang karena tidak mendapat respons, atau berpindah ke orang lain.

Meski bukan gangguan mental resmi, limerence dapat berdampak pada kehidupan seseorang jika berlangsung terlalu lama atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Para ahli menyarankan, mengenali kondisi ini menjadi langkah awal untuk mengelola emosi secara lebih sehat, sehingga individu dapat kembali menjalani kehidupan dengan seimbang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....