Singkong Lahirkan Bioplastik Ramah Lingkungan

  • 08 Apr 2026 20:25 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kenaikan harga plastik global terjadi akibat meningkatnya harga minyak bumi sebagai bahan baku utama, yang dipicu oleh konflik geopolitik dan terganggunya rantai pasok energi dunia. Kondisi ini membuat biaya produksi plastik konvensional melonjak dan berdampak hingga ke Indonesia, baik pada sektor industri maupun harga produk sehari-hari. Sebagai respons atas kondisi tersebut, pengembangan bioplastik mulai dilirik sebagai solusi yang lebih berkelanjutan.

Dikutip dari situs resmi brain.go.id, salah satu inovasi yang tengah dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang meneliti pemanfaatan pati singkong sebagai bahan dasar bioplastik. Singkong dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, tanaman ini memiliki kandungan pati yang tinggi sehingga cocok diolah menjadi material polimer alami. Hal ini menjadikan singkong sebagai sumber bahan baku yang terbarukan dan tidak bergantung pada impor maupun energi fosil.

Dalam proses pembuatannya, pati singkong diolah melalui tahapan tertentu hingga membentuk material menyerupai plastik. Bioplastik ini memiliki sifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, seperti untuk kemasan makanan, kantong belanja, hingga produk sekali pakai lainnya.

Keunggulan utama bioplastik terletak pada sifatnya yang biodegradable atau mudah terurai secara alami. Berbeda dengan plastik konvensional yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, bioplastik berbasis pati dapat terdegradasi dalam waktu yang jauh lebih singkat, sehingga mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Selain itu, bioplastik juga memiliki potensi untuk diproduksi dengan emisi karbon yang lebih rendah. Karena berbahan dasar tumbuhan, siklus produksinya dapat lebih ramah lingkungan, terutama jika didukung dengan praktik pertanian berkelanjutan.

Dari sisi ekonomi, pengembangan bioplastik berbasis singkong membuka peluang baru bagi petani lokal. Permintaan terhadap singkong dapat meningkat seiring dengan kebutuhan industri, sehingga menciptakan rantai nilai baru dari sektor hulu hingga hilir. Lebih jauh, inovasi ini juga mendukung kemandirian industri nasional. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor resin plastik berbasis minyak, sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri di pasar global.

Kedepan, tantangan utama terletak pada skalabilitas produksi dan penerimaan pasar. Namun dengan dukungan riset lanjutan, kebijakan pemerintah, serta kesadaran masyarakat, bioplastik berbasis pati singkong berpotensi menjadi solusi nyata tidak hanya untuk menekan dampak kenaikan harga plastik, tetapi juga untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....