Nihilnya Cold Storage Jadi Akar Masalah Inflasi Cabai SulSel

  • 07 Apr 2026 04:11 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Kelangkaan cabai yang berulang setiap tahun di Sulawesi Selatan bukan disebabkan oleh gagal panen, melainkan oleh ketiadaan fasilitas penyimpanan dan industri pengolahan cabai berskala besar di daerah ini. Kondisi itu memaksa petani menjual hasil panennya ke luar provinsi karena cabai tidak bisa disimpan lebih dari dua hingga tiga hari. Sarijuddin, Plt. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, mengatakan produksi cabai di Sulawesi Selatan sebenarnya selalu meningkat setiap tahun, namun masalah justru terjadi pada sisi distribusi sebagaimana disampaikan dalam dialog Pro 1 RRI Makassar, Senin, 6 April 2026.

Sarijuddin mengatakan Produksi cabai hampir tiap tahun meningkat, termasuk sekarang juga meningkat dari tahun lalu. "Kenapa sering terjadi inflasi? Karena petani menjual cabainya di provinsi lain." Jelasnya dalam dialog.

Ia melanjutkan, petani terpaksa menjual cabai kepada pengusaha dari luar provinsi karena harga yang ditawarkan lebih tinggi dan tidak tersedia tempat penyimpanan yang memadai di Sulawesi Selatan. "Kalau over produksi di selatan itu tidak ada tempat penyimpanan, tidak ada industri pengolahan secara besar. Sehingga jika cabai petani sudah panen dua tiga hari tinggal di dalam rumahnya itu rusak."

Sarijuddin mengungkapkan, data terakhir mencatat produksi cabai rawit di Sulawesi Selatan mencapai 44.831 ton, belum termasuk cabai besar dan cabai keriting yang produksinya juga sangat tinggi. Namun seluruh hasil produksi itu banyak yang dikirim ke Kalimantan, Papua, Manado, Sumatera, hingga Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta setiap minggunya.

Ia menegaskan, ketiadaan regulasi dari pemerintah provinsi yang mengatur distribusi cabai ke dalam daerah menjadi celah yang terus berulang. "Pemerintah tidak punya program jelas, tidak ada regulasi cabai. Maunya sampaikan di Champion Cabai bahwa jangan dikirim banyak ke pasar induk Kramat Jati, kirim ke Makassar kalau memang kita kekurangan."

Sarijuddin menambahkan, dirinya telah menyampaikan persoalan ini selama tiga tahun berturut-turut dalam berbagai forum, termasuk rapat di kantor gubernur dan pertemuan dengan instansi kementerian, namun hingga kini belum ada realisasi. "Intinya adalah kita butuh tempat penyimpanan cabai di selatan skala besar, tidak ada. Kita butuh industri pengolahan, tidak ada di Sulsel. Dan ini sudah tiga tahun saya selalu sampaikan."

Ia mendesak pemerintah provinsi segera menyiapkan fasilitas penyimpanan cabai berskala besar dan mendorong hadirnya industri pengolahan agar siklus inflasi cabai yang terjadi setiap tahun dapat diputus.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....