Pulu Mandoti: Beras Ketan Asal Kabupaten Enrekang

  • 27 Mar 2026 17:43 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar : Pulu Mandoti adalah salah satu jenis beras lokal, berupa ketan wangi, yang langka. Beras pulu mandoti ini tumbuh di wilayah pegunungan dengan ketinggian sekira 700 Mdpl. Desa Salukanan dan Desa Kendenan, Kecamatan Baraka, berada sekitar 60 kilometer dari Kota Enrekang, Ibukota Kabupaten Enrekang.

Secara fisik, Pulu Mandoti memiliki karakteristik yang sangat unik dibandingkan dengan jenis ketan lainnya. Butirannya cenderung lebih panjang dengan warna kemerahan atau kecokelatan yang khas. Tekstur setelah dimasak sangat pulen namun tidak lengket berlebihan, memberikan sensasi gigitan yang memuaskan. Hal inilah yang membuat Pulu Mandoti sering disebut sebagai "raja" dari segala jenis ketan yang ada di nusantara.

Beras ini bukan sekadar bahan pangan biasa, melainkan komoditas langka yang tumbuh subur di dataran tinggi, khususnya di wilayah Desa Salukanan dan sekitarnya. Keberadaannya telah lama menjadi simbol kemakmuran dan identitas budaya bagi masyarakat pegunungan yang menjaga kelestarian benih lokal ini secara turun-temurun.

Proses budidaya Pulu Mandoti juga memerlukan kesabaran ekstra karena masa tanamnya yang jauh lebih lama dibandingkan padi hibrida modern. Petani di Enrekang biasanya hanya memanen padi ini sekali dalam setahun. Metode penanaman yang masih menggunakan cara-cara tradisional dan organik memastikan bahwa setiap bulir yang dihasilkan tetap terjaga kemurniannya serta bebas dari residu pestisida berbahaya.

Menurut laman Wikipedia Indonesia pada kalangan masyarakat, beras yang mengeluarkan aroma khas dan tajam juga digunakan untuk sarana upacara ritual untuk menolak bala biasa juga digunakan untuk menyerang orang lain dinamakan doti, yang sangat ditakuti.

Hingga saat ini, beras tersebut masih disajikan dalam acara-acara hajatan dan sebagainya, tetapi tidak lagi menganggap esensi beras tersebut sebagai penolak marabahaya atau hal yang lain yang berbau mistis. Masyarakat di desa ini tetap melestarikan budaya tersebut.

Dalam struktur sosial masyarakat lokal, Pulu Mandoti menempati posisi yang sangat terhormat. Beras ini jarang dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari, melainkan disajikan pada acara-acara istimewa seperti pesta adat, pernikahan, atau penyambutan tamu agung. Menyajikan Pulu Mandoti dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu, sekaligus menunjukkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Dari sisi ekonomi, kelangkaan dan kualitas premium menjadikan Pulu Mandoti memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasar. Harga per kilogramnya bisa mencapai beberapa kali lipat dari harga beras biasa, namun peminatnya tetap tinggi, mulai dari wisatawan lokal hingga kolektor kuliner mancanegara. Hal ini memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani lokal yang terus berkomitmen mempertahankan budidaya padi aromatik ini.

Menjaga keberlangsungan Pulu Mandoti berarti juga menjaga warisan lingkungan dan kearifan lokal Sulawesi Selatan. Dukungan terhadap produk lokal ini tidak hanya membantu ekonomi kerakyatan, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat mencicipi kelezatan dan menghirup aroma harum dari ketan legendaris ini. Pulu Mandoti adalah bukti nyata betapa kayanya keragaman hayati Indonesia yang patut kita banggakan dan lestarikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....