Ustazah Aminah: Iqra' Perintah untuk Membaca Diri Sendiri
- 26 Mar 2026 15:51 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Perintah "Iqra" atau "Bacalah" yang menjadi wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW sering kali disalahpahami hanya sebatas aktivitas membaca teks atau kitab. Padahal, Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi atau tidak bisa membaca dan menulis huruf hijaiyah. Aminah dari Ikatan Dai Muda Indonesia menjelaskan bahwa esensi wahyu tersebut jauh melampaui kemampuan literasi tekstual.
"Nabi itu ummi, beliau tidak butuh teks untuk melihat apa yang diwahyukan Allah karena ilmunya sudah tinggi. Di masa itu pun Al-Qur'an belum berbentuk mushaf seperti sekarang, melainkan dihafalkan oleh para sahabat sebagai tahfiz berjalan," ujar Aminah saat menjelaskan sejarah pembukuan Al-Qur'an kepada RRI. Rabu, 25 Maret 2026.
Menurut Aminah, kata "Iqra" dalam konteks wahyu pertama memiliki makna penguatan hati. Ia menceritakan, Saat itu, Nabi sedang dalam masa berduka yang mendalam setelah kehilangan istri tercinta dan pamannya yang selalu mendukung dakwah beliau.
"Iqra di situ berarti mantapkan hati Muhammad. Allah ingin menyampaikan bahwa meskipun amanah ini berat, Nabi pasti mampu melaluinya. Khadijah sendiri adalah sosok luar biasa yang menyerahkan harta dan jiwanya untuk dakwah, sehingga kehilangannya memberikan kesedihan mendalam bagi Rasulullah," ungkapnya.
Lebih lanjut, Aminah memaparkan bahwa makna "Iqra" yang kedua adalah perintah untuk membaca diri sendiri, hal ini sering menjadi tugas tersulit bagi manusia karena kecenderungan lebih mudah menilai kekurangan orang lain daripada melihat kekurangan dalam diri sendiri. "Kadang kita seperti pepatah, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, tapi semut di seberang jalan kelihatan. Padahal, sangat penting bagi kita untuk mengenal diri sendiri sebelum menilai fenomena di luar sana," tambah Aminah.
Ia menambahkan, makna "Iqra" ketiga adalah membaca fenomena sosial di sekitar karena Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan akan tetapi juga hubungan horizontal antar sesama manusia. Ibu dua anak ini menegaskan, manusia sebagai makhluk sosial atau An-Nas diminta untuk memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakatnya.
"Jangan sampai kita rajin berzikir di masjid, tapi tidak peduli dengan lingkungan sosial. Memahami Al-Qur'an itu tidak boleh eksklusif. Mengaji itu bukan hanya menyelesaikan 30 juz secara tekstual, tapi juga bagaimana kita membaca dan merespons fenomena masyarakat hari ini," jelasnya dengan tegas.
Diakhir pertemuan, Aminah mengajak masyarakat untuk memperluas cakrawala "Iqra" hingga ke ranah kemanusiaan universal atau ukhuwah basyariah seperti halnya penderitaan yang terjadi di Gaza. "Untuk peduli pada masalah Gaza, tidak perlu jadi muslim, cukup jadi manusia," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....