Prasangka dalam Perspektif Budha Dharma
- 05 Mar 2026 12:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Prasangka menjadi topik pembahasan dalam program Budha Dharma yang disiarkan oleh PRO1 RRI Makassar pada Selasa, 3 Maret 2026. Program yang dipandu oleh UPC Herlina Nyana Puspita tersebut menghadirkan narasumber Dr. Ir. Yonggris Lao, MM, Ketua Permabudhi Sulsel, untuk mengulas bagaimana prasangka dapat memengaruhi cara pandang dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dialog yang berlangsung reflektif, Dr. Yonggris Lao menjelaskan bahwa prasangka muncul dari pikiran yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Dalam ajaran Buddha, kondisi ini berkaitan erat dengan cara seseorang mengelola persepsi dan emosinya. “Prasangka lahir dari pikiran yang tidak dilatih. Kita sering menilai sebelum memahami, padahal belum tentu apa yang kita pikirkan itu benar,” ujarnya.
Ia menambahkan, prasangka kerap menjadi akar dari konflik, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat. Ketika seseorang dikuasai asumsi negatif, maka respons yang muncul pun cenderung emosional. “Saat prasangka muncul, kita seperti melihat dunia melalui kacamata keruh. Semua terlihat salah, padahal sumbernya ada di pikiran kita sendiri,” jelasnya.
Sebagai Ketua Permabudhi Sulawesi Selatan, Dr. Yonggris menekankan pentingnya kesadaran diri (mindfulness) untuk mengikis prasangka. Dengan melatih perhatian penuh dan kebijaksanaan, seseorang dapat belajar membedakan antara fakta dan asumsi. Ia mengajak umat untuk membangun kebiasaan klarifikasi sebelum bereaksi terhadap suatu situasi.
“Dalam ajaran Buddha, kita diajak untuk memeriksa pikiran terlebih dahulu. Jangan langsung percaya pada prasangka. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ini fakta atau hanya asumsi saya?” tuturnya. Menurutnya, sikap bijak tersebut dapat menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis dan penuh empati.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa prasangka bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri. Pikiran yang dipenuhi kecurigaan dan penilaian negatif akan mengganggu ketenangan batin. Oleh karena itu, praktik meditasi dan pengembangan cinta kasih (metta) menjadi salah satu cara efektif untuk membersihkan batin dari prasangka.
Melalui program Budha Dharma ini, Yongris berharap pesan moral yang disampaikan dapat menjadi renungan bagi masyarakat luas. "Saya menegaskan bahwa mengelola prasangka adalah langkah awal menuju kehidupan yang lebih damai. Ketika kita mampu melepaskan prasangka, di situlah kebijaksanaan bertumbuh,” pungkas Dr. Yonggris Lao.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....