Fapet Unhas dan PT Vale Perkuat Hilirisasi Riset Ayam Alope Unhas 1 di Luwu Timur

  • 29 Sep 2026 19:22 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar– Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) bersama PT Vale Indonesia memperkuat hilirisasi hasil riset melalui monitoring dan pendampingan budidaya Ayam Alope Unhas 1 bersama Kelompok Waliko di Pekaloa, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan teknis untuk mengevaluasi penerapan hasil riset Fapet Unhas pada tingkat peternak.

Dekan Fapet Unhas, Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., IPU, bersama Tim Alope Unhas 1 memantau langsung perkembangan budidaya serta berdiskusi dengan anggota Kelompok Waliko mengenai kondisi pemeliharaan di lapangan.

“Monitoring ini kami lakukan untuk melihat secara langsung bagaimana Ayam Alope Unhas 1 tumbuh dan beradaptasi di tingkat peternak. Kami ingin memastikan tata laksana pemeliharaan yang diterapkan sudah tepat, sekaligus mengetahui kendala yang dihadapi kelompok,” ujar Prof. Syahdar, dalam keterangannya, Selasa, 29 September 2026.

Pemantauan meliputi manajemen pakan, kondisi kandang, kesehatan ternak, perkembangan pembesaran, serta pencatatan produksi. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam pengelolaan budidaya karena dapat memengaruhi performa dan efisiensi produksi.

Menurut Prof. Syahdar, pencatatan dan evaluasi lapangan juga diperlukan untuk memperkuat proses hilirisasi hasil penelitian.

“Ketika hasil riset sudah diterapkan di masyarakat, kami perlu mendapatkan data dan umpan balik dari peternak. Dari situ kami bisa melihat apa yang berjalan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki,” jelas Prof. Syahdar.

Pendampingan juga diarahkan pada peningkatan kemampuan anggota kelompok dalam mengelola budidaya secara mandiri. Tim Ayam Alope Unhas 1 memberikan penjelasan teknis terkait pemeliharaan, pengelolaan pakan, kesehatan ternak, dan pencatatan perkembangan ayam.

“Kami ingin kelompok memiliki kemampuan untuk mengelola budidaya secara mandiri. Karena itu, yang kami berikan bukan hanya pendampingan terhadap ternaknya, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat mereka gunakan dalam menjalankan usaha,” kata Prof. Syahdar.

Hal yang menarik dari Kelompok Waliko adalah komposisi anggotanya. Kelompok binaan tersebut beranggotakan lima orang penyandang disabilitas, dengan dua anggota di antaranya memiliki disabilitas fisik. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa penerapan hasil riset peternakan dapat membuka ruang partisipasi ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap kesempatan usaha.

“Ini juga penting bagi kami karena Kelompok Waliko memiliki karakter yang khusus. Mereka adalah penyandang disabilitas, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menjalankan kegiatan produktif. Tugas kita adalah memberikan akses, pengetahuan, dan pendampingan agar potensi tersebut dapat berkembang,” tutur Prof. Syahdar.

Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), keterlibatan Kelompok Waliko terutama berkaitan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui perluasan kesempatan pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip No One Left Behind, yang menekankan pentingnya memastikan kelompok masyarakat dengan akses dan kondisi yang beragam tetap memperoleh manfaat dari proses pembangunan.

Penerapan Ayam Alope Unhas 1 di tingkat peternak merupakan bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil riset Fapet Unhas. Interaksi langsung dengan kelompok peternak juga memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk memperoleh informasi mengenai kondisi budidaya di lapangan.

“Pada saat teknologi diterapkan, situasinya tentu tidak selalu sama dengan kondisi penelitian. Karena itu, monitoring seperti ini penting untuk melihat adaptasi teknologi dan memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi peternak,” ungkap Prof. Syahdar.

Kolaborasi dengan PT Vale Indonesia turut memperkuat ruang penerapan hasil riset tersebut melalui dukungan terhadap kelompok masyarakat di wilayah operasional perusahaan. Hubungan antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas pemanfaatan inovasi peternakan sekaligus memperkuat kapasitas usaha lokal.

“Harapan kami, kelompok ini tidak hanya berhasil dalam satu siklus pemeliharaan, tetapi mampu terus berkembang dan mengelola usahanya dengan pengetahuan yang sudah diperoleh. Kalau kapasitas kelompok kuat, hasil riset yang kita bawa juga akan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Prof. Syahdar.

Pendampingan Ayam Alope Unhas 1 akan terus dilakukan secara berkala melalui monitoring perkembangan ternak, evaluasi teknis, serta penguatan kapasitas kelompok. Langkah tersebut diharapkan memperluas penerapan hasil riset Fapet Unhas sekaligus mendukung pengembangan peternakan berbasis potensi masyarakat di Luwu Timur.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....