Kisah Es Teler Kota Daeng, Dari Menu Ramadan Jadi Kuliner Ikonik Makassar

  • 21 Sep 2026 14:58 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar —Berawal dari sebuah eksperimen sederhana pada 2011, Es Teler Kota Daeng kini menjelma menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan masyarakat Kota Makassar. Usaha yang awalnya hanya dibuat sebagai bisnis musiman untuk menyediakan menu berbuka puasa itu ternyata menjadi titik awal perjalanan panjang sebuah brand kuliner lokal.

Ide tersebut bermula ketika Juanda kebingungan mencari hidangan manis dan segar yang cocok disajikan selama Ramadan. Tak disangka, racikan yang dibuat secara spontan itu justru berkembang menjadi usaha yang hingga kini dikenal luas oleh masyarakat Makassar.

Kisah tersebut diungkapkan Juanda, Owner Es Teler Kota Daeng, dalam Program TERAS UMKM Pro 4 RRI Makassar yang disiarkan melalui FM 92.5 MHz, Senin, 21 September 2026.

Dalam program tersebut, RRI menghadirkan perbincangan inspiratif bersama Juanda yang baru saja dinobatkan sebagai pemenang Makassar Most Favorite Culinary Award 2026. Mengusung tema “Dipilih Bukan Karena Promosi Tapi Karena Dicintai”, perbincangan itu mengulas perjalanan Es Teler Kota Daeng dalam membangun usaha, menghadapi berbagai tantangan, hingga mampu bertahan dan mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Juanda menceritakan, perjalanan membangun usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus. Pada awalnya, racikan Es Teler Kota Daeng masih jauh dari sempurna. Proses pembuatannya bahkan dilakukan secara terburu-buru antara pagi hingga siang hari.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Juanda terus melakukan perbaikan atau improve hingga akhirnya menemukan formula rasa yang dianggap tepat pada 2012.

Kualitas bahan menjadi salah satu perhatian utama dalam menjaga cita rasa Es Teler Kota Daeng. Mereka menggunakan bahan-bahan berkualitas, mulai dari gula aren khas Sulawesi hingga kelapa dan buah-buahan pilihan yang didatangkan dari sejumlah daerah, termasuk Bone, khususnya Bontocani atau Lappariaja.

Bukan hanya soal rasa, konsistensi dalam menjalankan usaha juga menjadi prinsip yang dipegang Juanda. Salah satu tantangan yang kerap dihadapi adalah perubahan cuaca, terutama musim hujan yang biasanya berdampak pada minat masyarakat mengonsumsi minuman dingin.

Meski demikian, Es Teler Kota Daeng tetap memilih untuk membuka kedainya setiap hari. Juanda meyakini bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT sehingga kondisi cuaca tidak menjadi alasan untuk berhenti melayani pelanggan.

"Kalau bicara tentang rezekinya, bukannya tentang panas atau hujan di sini. Kalau memang rezeki yang sudah ditakdirkan untuk kita dari Allah, mau panas mau hujan akan tetap ada di sini," ungkap Juanda saat menjelaskan ketangguhan kedainya menghadapi musim hujan.

Untuk pengembangan usaha, Juanda mengungkapkan bahwa Es Teler Kota Daeng belum memiliki rencana membuka cabang di luar Makassar. Salah satu pertimbangannya adalah daya tahan buah-buahan segar seperti alpukat, nangka, dan durian yang relatif singkat.

Alih-alih melakukan ekspansi ke luar kota, Juanda memilih memaksimalkan pelayanan dan mempertahankan standar kualitas di Makassar. Menurutnya, potensi pasar di Kota Makassar sendiri masih sangat luas untuk terus dikembangkan.

Meski telah menjalankan usaha selama 15 tahun, aktivitas promosi secara digital baru mulai digarap lebih serius dalam beberapa waktu terakhir. Langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Saat ini, Es Teler Kota Daeng aktif memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Instagram dan TikTok. Mereka juga mulai merambah fitur creator serta e-commerce sebagai bagian dari strategi untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Di tengah ketatnya persaingan bisnis es teler di Makassar, Es Teler Kota Daeng mengandalkan perpaduan cita rasa khas, tempat yang nyaman, serta harga yang tetap terjangkau. Bahkan ketika harga bahan baku mengalami fluktuasi, mereka masih berupaya mempertahankan sejumlah varian dengan harga mulai dari Rp10.000.

Kebijakan tersebut dilakukan agar produk tetap dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Jika terjadi kenaikan harga pada produk tertentu, Juanda mengatakan pihaknya berupaya menahan kenaikan tersebut dengan mengurangi sebagian keuntungan.

"Di kondisi ekonomi seperti ini kami masih berusaha mempertahankan harga paling termurahnya karena masih menjangkau sangat terjangkau. Kalaupun ada kenaikan pada produk tertentu, pilihannya adalah menahan laju kenaikan dengan mengurangi sedikit keuntungan demi menjaga customer," ujar Juanda menegaskan komitmennya terhadap pelanggan.

Perjalanan Es Teler Kota Daeng menunjukkan bahwa membangun sebuah brand lokal tidak hanya bergantung pada promosi. Konsistensi menjaga kualitas, ketulusan dalam melayani, serta kedekatan dengan pelanggan menjadi bagian penting dalam mempertahankan keberlangsungan usaha.

Penghargaan Makassar Most Favorite Culinary Award 2026 yang diraih Es Teler Kota Daeng menjadi salah satu bukti perjalanan usaha yang dirintis sejak 2011 tersebut. Dari sebuah eksperimen sederhana untuk menghadirkan menu berbuka puasa, Es Teler Kota Daeng tumbuh menjadi kuliner lokal yang berhasil merebut hati masyarakat Makassar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....