Elisabeth Ajak Umat Berani Menegur dalam Kasih demi Memulihkan Hubungan

  • 07 Sep 2026 11:45 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Hidup dalam kasih yang benar bukan hanya tentang mengasihi orang lain, tetapi juga keberanian untuk mengingatkan dan menegur ketika sesama melakukan kesalahan. Teguran yang disampaikan dengan kasih diharapkan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan, bukan justru mempermalukan atau menjatuhkan harga diri.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Makassar, Elisabeth, SH., dalam program Mimbar Agama Katolik RRI Pro 1 Makassar, Minggu, 6 September 2026. Mengangkat tema “Hidup Dalam Kasih Yang Benar”, Elisabeth mengajak umat merenungkan pesan Injil Matius 18:15-20, khususnya mengenai bagaimana menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh sesama.

Menurut Elisabeth, Yesus mengajarkan agar seseorang yang melihat kesalahan saudaranya terlebih dahulu memberikan teguran secara pribadi atau empat mata. Cara tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama teguran bukan untuk membuka aib atau mempermalukan, melainkan memberikan kesempatan kepada orang yang bersangkutan untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki diri.

“Menegur itu bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan hubungan dan menyelamatkan saudara kita,” ujar Elisabeth dalam renungannya.

Pesan mengenai keberanian untuk saling mengingatkan tersebut juga dikaitkan dengan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Elisabeth menjelaskan bahwa umat dipanggil menjadi penjaga bagi sesamanya. Karena itu, kepedulian terhadap orang lain tidak cukup hanya dengan melihat atau mengetahui kesalahan, tetapi juga diwujudkan melalui keberanian memberikan nasihat dengan cara yang benar dan penuh kasih.

Lebih lanjut, Elisabeth mengacu pada Roma 13:8-10 yang menegaskan bahwa kasih kepada sesama merupakan inti dari hukum Taurat. Kasih tidak hanya diwujudkan melalui perkataan, tetapi juga melalui sikap yang menjaga martabat orang lain, termasuk ketika harus menyampaikan teguran. Dengan kasih, seseorang tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan pembicaraan atau kesempatan untuk menjatuhkan.

Ia pun mengingatkan umat agar tidak membicarakan keburukan orang lain di belakang. Ketika menemukan kesalahan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berbicara langsung kepada orang yang bersangkutan dengan niat yang tulus untuk membantu. Sikap tersebut menjadi bentuk kasih yang lebih nyata dibandingkan menyebarkan kesalahan seseorang kepada orang lain.

Menutup renungannya, Elisabeth menegaskan bahwa hidup dalam kasih yang sejati berarti mengutamakan pemulihan hubungan daripada mencari kemenangan dalam sebuah konflik. Kasih mendorong seseorang untuk menegur demi menyelamatkan, bukan menghancurkan harga diri. Pesan tersebut menjadi ajakan bagi umat untuk membangun kehidupan bersama yang dipenuhi kepedulian, pengampunan, dan keberanian untuk saling menjaga dalam kasih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....