Tarif Tiket Turis Asing Bantimurung Maros Dinilai Masih Tinggi

  • 31 Agt 2026 17:34 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Tarif masuk bagi wisatawan mancanegara di kawasan wisata Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan. Meski harga tiket bagi wisatawan asing telah mengalami penurunan dari sebelumnya Rp255 ribu menjadi Rp200 ribu per orang, tarif tersebut dinilai masih cukup tinggi dan belum mampu mendorong peningkatan kunjungan secara signifikan.

Keluhan itu tidak hanya datang dari wisatawan, tetapi juga dirasakan oleh pengemudi transportasi daring yang kerap mengantar wisatawan asing menuju sejumlah destinasi wisata di Maros. Salah seorang pengemudi Grab, Dito, mengaku beberapa kali mengantar wisatawan mancanegara ke kawasan Bantimurung.

Namun, tidak sedikit wisatawan yang akhirnya mengurungkan niat masuk setelah mengetahui harga tiket di loket. Menurut Dito, wisatawan asing yang datang secara berkelompok tiga hingga empat orang harus mengeluarkan biaya yang cukup besar hanya untuk tiket masuk.

Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan membandingkan biaya kunjungan Bantimurung dengan destinasi lain, salah satunya kawasan wisata Rammang-Rammang. “Tarif masuk untuk wisatawan mancanegara itu agak besar. Dibandingkan dengan destinasi yang biasa kami antar seperti Rammang-Rammang, biayanya lebih kecil,” ujarnya Senin, 31 Agustus 2026.

Ia mengatakan, persoalan bukan semata-mata mengenai mahalnya harga tiket, tetapi juga menyangkut kesesuaian antara biaya yang dikeluarkan wisatawan dengan pengalaman yang mereka dapatkan di dalam kawasan wisata. Dito menyebut, wisatawan asing yang telah datang ke Bantimurung umumnya berharap dapat menikmati berbagai daya tarik yang ditawarkan kawasan tersebut.

Namun, ketika harga tiket dinilai tidak sebanding dengan fasilitas maupun atraksi yang tersedia, kekecewaan pun muncul. Bahkan, menurut dia, beberapa wisatawan yang sudah tiba di loket memilih berdiskusi dan kemudian mengalihkan perjalanan ke destinasi wisata lain.

“Begitu melihat harga, mereka pertimbangkan dan diskusi. Akhirnya memilih berganti ke destinasi lain,” katanya.

Mayoritas wisatawan mancanegara yang pernah diantar Dito ke sejumlah destinasi di Maros disebut berasal dari kawasan Eropa.

Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali tarif masuk bagi wisatawan asing.

Menurutnya, penurunan harga akan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan daya tarik Bantimurung di mata wisatawan internasional. “Kalau bisa harganya diturunkan supaya bisa menarik minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung dan melihat apa yang ada di dalam. Walaupun fasilitasnya dianggap minim, setidaknya harga yang mereka keluarkan sebanding dengan apa yang mereka dapatkan,” tuturnya.

Kunjungan Asing Naik, tetapi Belum Signifikan

Hal senada disampaikan pihak Koordinator Umum Pengelola Kawasan Wisata Alam Bantimurung Bulusaraung Kabupaten Maros, H. Suardi. Berdasarkan evaluasi kunjungan sejak Januari hingga Agustus 2026, jumlah wisatawan mancanegara memang menunjukkan peningkatan setelah adanya perubahan tarif.

Namun, peningkatan tersebut masih dinilai belum signifikan. Harga tiket wisatawan asing sebelumnya berada di angka Rp255 ribu per orang. Tarif itu kemudian turun menjadi Rp200 ribu.

Meski demikian, sejumlah wisatawan mancanegara masih menilai tarif tersebut relatif tinggi. “Untuk mancanegara ada sedikit peningkatan, tetapi tidak begitu signifikan. Dalam beberapa bulan terakhir semenjak harga tiket turun dari Rp255 ribu menjadi Rp200 ribu, peningkatannya belum begitu signifikan karena masih terbilang tinggi menurut beberapa wisatawan asing,” jelas H.Suardi.

Menurut pengelola, masih ada peluang peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing apabila tarif kembali disesuaikan ke angka yang lebih terjangkau. Bahkan, penurunan tarif hingga kisaran Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per orang dinilai berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap kunjungan wisatawan mancanegara.

“Insyaallah kalau turun sampai Rp100 ribu atau Rp150 ribu, peningkatan pengunjung mancanegara akan lebih signifikan,” ujarnya.

Wisatawan Lokal Justru Mengalami Lonjakan

Berbeda dengan wisatawan mancanegara, kunjungan wisatawan nusantara ke Bantimurung disebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak awal tahun.

Salah satu faktor yang dinilai mendorong peningkatan tersebut adalah perubahan tarif tiket bagi pelajar dan wisatawan domestik.

Untuk hari biasa, tiket pelajar disebut berada di angka Rp15 ribu, sedangkan wisatawan dewasa Rp35 ribu. Sementara pada akhir pekan atau hari libur, tarif pelajar menjadi Rp20 ribu dan dewasa Rp40 ribu.

Penurunan harga tiket pelajar disebut memberikan dampak terhadap pola kunjungan keluarga. Dengan harga yang lebih terjangkau, semakin banyak anak-anak yang mengajak orang tua mereka berkunjung ke Bantimurung.

“Alhamdulillah dari Januari sampai saat ini drastis peningkatannya. Karena harga tiket anak yang turun otomatis banyak yang mengajak orang tua datang,” jelas H.Suardi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga tiket memiliki pengaruh cukup besar terhadap keputusan masyarakat untuk berwisata.

Persoalan Tarif Melibatkan Lebih dari Satu Pengelola

Persoalan tarif masuk wisatawan asing di Bantimurung tidak sepenuhnya berada pada satu pihak. Dalam pengelolaan kawasan tersebut terdapat pembagian kewenangan dan penerimaan antara pemerintah daerah dan pengelola kawasan konservasi.

Pihak pengelola menjelaskan, struktur tarif sebelumnya sebesar Rp255 ribu untuk wisatawan asing terdiri dari beberapa komponen penerimaan. Salah satu bagian terbesar merupakan penerimaan untuk pihak Taman Nasional, sementara bagian lainnya masuk kepada pemerintah daerah atau badan pengelola terkait.

Setelah dilakukan perubahan tarif, pemerintah daerah disebut telah menurunkan bagian tarifnya sekitar Rp50 ribu sehingga harga yang dibayarkan wisatawan asing menjadi Rp200 ribu. Namun, bagian tarif yang menjadi kewenangan pengelola kawasan konservasi disebut belum mengalami perubahan.

“Jadi Kabupaten menurunkan harga sekitar Rp50 ribu sehingga menjadi Rp200 ribu. Tapi dari pihak Taman Nasional mereka belum menurunkan bagian mereka,” ungkap H.Suardi.

Karena itu, pihak pengelola berharap ke depan terdapat pembahasan bersama antarlembaga untuk mengevaluasi struktur tarif wisatawan mancanegara. Penyesuaian tarif dinilai tidak hanya berkaitan dengan jumlah wisatawan, tetapi juga dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Tarif Terjangkau Dinilai Bisa Gerakkan Ekonomi Lokal

Penurunan harga tiket bagi wisatawan mancanegara diharapkan tidak berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan. Lebih jauh, meningkatnya wisatawan asing diyakini dapat memberikan efek berantai terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, pedagang, penyedia jasa wisata, pengemudi transportasi, hingga masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pariwisata.

“Ketika harga juga terjangkau, otomatis UMKM, para pencari rezeki di sini, orang-orang lokal, insyaallah bisa lebih sejahtera karena ada peningkatan wisatawan asing,” ujarnya.

Bantimurung sendiri merupakan salah satu destinasi unggulan Kabupaten Maros yang memiliki daya tarik alam, termasuk air terjun dan kawasan karst. Karena itu, pengembangan pariwisata dinilai perlu diikuti dengan kebijakan harga yang kompetitif, peningkatan fasilitas, serta penguatan promosi.

Persoalan tarif menjadi semakin penting karena wisatawan mancanegara memiliki banyak pilihan destinasi di Indonesia. Pengalaman wisata, biaya perjalanan, fasilitas, dan harga tiket menjadi pertimbangan sebelum mereka menentukan tujuan.

Dengan demikian, evaluasi tarif wisatawan asing di Bantimurung menjadi pekerjaan rumah bersama antara pemerintah daerah dan pihak pengelola kawasan konservasi.

Jika harga tiket dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas pengelolaan dan konservasi, Bantimurung diharapkan semakin kompetitif sebagai destinasi wisata internasional sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....