Kolam Lindi TPA Antang Dibedah dengan Teknologi Mikroba, Mulai Tunjukkan Hasil

  • 31 Agt 2026 13:04 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pemerintah Kota Makassar terus membenahi sistem pengelolaan air lindi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kecamatan Manggala. Upaya ini dilakukan untuk menekan potensi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas air lindi yang selama ini menjadi salah satu persoalan di kawasan TPA.

Dalam proses percepatan pembenahan tersebut, Pemkot Makassar menggandeng PT Esa Maha Karya Tunggal (EcoTru), perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah dan remediasi lingkungan melalui teknologi mikroba dan enzim organik.

Direktur PT Esa Maha Karya Tunggal (EcoTru), Eka Lestari Sinaga, mengatakan treatment air lindi dilakukan menggunakan metode mikrobiologi yang bersifat alami dan mulai menunjukkan perkembangan positif setelah tiga hari penerapan.

"Treatment yang sedang kami jalankan menggunakan metode mikrobiologi 100 persen alami. Bakteri telah diaplikasikan selama tiga hari dan mulai menunjukkan hasil," kata Eka saat meninjau kolam lindi di TPA Tamangapa, Minggu 30 Agustus 2026.

Peninjauan tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Wilayah II Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku, Arnianah Alwi, serta Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Ferdi Mochtar.

Eka menjelaskan, pembenahan difokuskan pada kolam penampungan dan pengolahan air lindi agar kandungan polutan dapat ditekan sehingga kualitas air hasil olahan memenuhi baku mutu lingkungan.

Menurutnya, teknologi mikrobiologi akan diaplikasikan secara berkelanjutan selama tujuh hari untuk mempercepat penguraian material organik dan polutan. Dalam proses tersebut, sedimen lama di dasar kolam akan terdorong ke permukaan untuk kemudian disaring sehingga endapan di dalam kolam berkurang secara bertahap.

"Sedimen ataupun lumpur yang sudah lama akan naik ke permukaan, kemudian disaring. Dengan kinerja bakteri EcoTru, jumlah sedimen akan berkurang," ujarnya.

Ia menambahkan, mikroorganisme yang digunakan mampu bertahan pada kondisi lingkungan ekstrem dengan rentang pH 5 hingga 9 serta suhu 20 hingga 60 derajat Celsius.

Pada hari ketiga pelaksanaan treatment, kata Eka, mulai terbentuk biofilm di salah satu kolam. Biofilm tersebut berfungsi menjaga mikroorganisme tetap berada di dalam kolam sehingga mampu bekerja lebih lama dalam mengurai material pencemar.

"Biofilm menjadi penahan bakteri agar tidak cepat keluar bersama efluen, sehingga bakteri dapat bekerja hingga tiga bulan ke depan," jelasnya.

Eka mengatakan, pembenahan kolam lindi juga menjadi bagian dari upaya tindak lanjut terhadap sanksi administratif yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup kepada pengelolaan kawasan TPA Tamangapa.

"Proses ini merupakan bagian dari upaya bersama Pemerintah Kota Makassar untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan di kawasan TPA sekaligus menindaklanjuti sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup," katanya.

Selain mengurangi sedimen, teknologi tersebut juga ditujukan untuk memperbaiki kualitas air lindi dan menekan bau yang ditimbulkan dari cairan hasil rembesan timbunan sampah.

Menurut Eka, keberhasilan treatment tidak hanya diukur dari perubahan warna dan berkurangnya bau, tetapi juga dari hasil uji laboratorium terhadap sejumlah parameter seperti Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solids (TSS), serta kandungan logam berat agar memenuhi baku mutu lingkungan.

"Yang diutamakan adalah menjernihkan air, mengurangi bau, serta menurunkan parameter pencemaran sesuai ketentuan yang berlaku," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....