Benih Bermutu dan Bersertifikasi Dukung Kemandirian Pangan Sulsel
- 25 Agt 2026 13:29 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,MAKASSAR — Penggunaan benih bermutu dan bersertifikasi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan di Sulawesi Selatan. Hal tersebut dibahas dalam program KIPRAH SULSEL PRO1 RRI Makassar, Senin, 24 /8/2026, dengan menghadirkan Samsibar, SE, MM, Kepala UPT Balai Sertifikasi Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, DTPHPBUN Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai narasumber dipandu Arfan Yusri.
Samsibar menjelaskan, benih merupakan fondasi awal dalam keberhasilan budidaya tanaman pangan. Benih bermutu memiliki daya tumbuh yang baik, sehat, serta sesuai dengan karakteristik varietas yang dibutuhkan petani.
Karena itu, penggunaan benih berkualitas sejak awal akan memberikan peluang lebih besar bagi tanaman untuk tumbuh optimal dan menghasilkan produksi maksimal. “Benih itu merupakan awal dari sebuah proses produksi. Kalau benih yang digunakan bermutu, sehat dan sesuai standar, maka peluang untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil produksi yang tinggi juga semakin besar,” ujar Samsibar.
Menurut Samsibar, sertifikasi benih juga menjadi bagian penting dalam mendukung Program Mandiri Benih Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketersediaan benih unggul bagi petani sekaligus mendorong kemandirian perbenihan di tingkat daerah.
Dalam pelaksanaannya, benih program disalurkan kepada kelompok tani dan dikembangkan melalui penangkaran dengan pendampingan pemerintah. Data pemerintah Sulsel menunjukkan program Mandiri Benih telah diarahkan untuk memperluas penggunaan benih bermutu sekaligus memberdayakan petani penangkar.
Samsibar menjelaskan, petani yang membutuhkan benih bantuan perlu berkoordinasi melalui kelompok tani, penyuluh pertanian, serta Dinas Pertanian kabupaten/kota. Kebutuhan petani kemudian didata dan diverifikasi berdasarkan calon petani dan calon lahan atau CPCL, sebelum ditetapkan sebagai penerima sesuai alokasi program.
Dalam pelaksanaan program tahun 2025, misalnya, benih disalurkan kepada kelompok tani maupun penerima yang telah ditetapkan di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. “Petani tidak perlu bingung untuk mendapatkan informasi mengenai Mandiri Benih. Koordinasikan melalui kelompok tani dan penyuluh pertanian di wilayah masing-masing. Dari sana kebutuhan dan luas lahan akan didata, kemudian diverifikasi sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan pemerintah. Jadi petani harus aktif berkoordinasi dan memastikan datanya masuk dalam pendataan calon penerima,” jelas Samsibar.
Mekanisme berbasis kelompok ini penting agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran sekaligus menyesuaikan kebutuhan musim tanam. Di lapangan, Samsibar mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, mulai dari pemahaman petani mengenai pentingnya benih bersertifikat, kemampuan penangkar dalam menghasilkan benih sesuai standar, hingga ketersediaan benih yang harus disesuaikan dengan waktu dan kebutuhan musim tanam.
Bahkan dalam pelaksanaan program sebelumnya, kebutuhan benih yang diusulkan melalui CPCL pernah melebihi ketersediaan bantuan sehingga tidak seluruh petani dapat terakomodasi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya perencanaan kebutuhan, penguatan kelembagaan kelompok tani dan peningkatan kapasitas penangkar.
Samsibar berharap petani tidak melihat benih hanya sebagai bantuan, tetapi sebagai investasi awal untuk meningkatkan produktivitas. Program Mandiri Benih juga diharapkan semakin memperkuat ekosistem perbenihan lokal melalui kolaborasi pemerintah, penangkar, penyuluh, kelompok tani dan petani.
“Kemandirian benih bukan hanya bagaimana kita mampu menyediakan benih sendiri, tetapi bagaimana benih tersebut bermutu, bersertifikasi dan mampu memberikan hasil yang optimal. Karena itu, petani harus aktif berkoordinasi, memilih benih yang jelas mutunya, dan bersama-sama menjaga keberlanjutan program ini untuk meningkatkan produksi pangan Sulawesi Selatan,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....