Biringkanaya Optimalkan 6 TPS 3R dan 700 Teba Tekan Sampah ke TPA
- 23 Agt 2026 10:28 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pemerintah Kecamatan Biringkanaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan melalui optimalisasi TPS 3R dan sistem teba. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan volume sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir setelah kebijakan pelarangan open dumping diberlakukan.
Camat Biringkanaya Maharuddin mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan berbagai fasilitas pengolahan sampah yang tersedia di wilayahnya. Penguatan dilakukan terutama terhadap sampah organik yang menjadi komponen terbesar dari produksi sampah masyarakat.
Saat ini, Kecamatan Biringkanaya memiliki enam TPS 3R yang tersebar di enam kelurahan. Fasilitas tersebut menjadi salah satu titik pengolahan sampah sebelum material yang tersisa dan tidak dapat dimanfaatkan diangkut menuju TPA.
“Untuk penanganan sampah organik di Kecamatan Biringkanaya, kami tetap mengupayakan dengan membuat dan mengoptimalkan TPS 3R yang ada di kecamatan. Di Biringkanaya sudah ada enam TPS 3R di enam kelurahan,” ujar Maharuddin, Minggu, 23 Agustus 2026.
Selain TPS 3R, pemerintah kecamatan juga mengembangkan sistem teba di tingkat kelurahan. Fasilitas tersebut diarahkan untuk mengolah sampah organik dari lingkungan sehingga tidak seluruhnya masuk ke sistem pengangkutan.
Hingga saat ini, sekitar 700 teba telah terpasang di 11 kelurahan di Kecamatan Biringkanaya. Jumlah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbanyak titik pengolahan sampah organik dari sumber.
Maharuddin menjelaskan, keberadaan teba diharapkan mampu mengantisipasi penumpukan sampah organik di lingkungan masyarakat. Sampah rumah tangga seperti sisa makanan dan daun dapat diolah sebelum menjadi beban pengangkutan.
Selain teba, pengolahan sampah organik juga dilakukan melalui pengomposan dan budidaya maggot. Pemerintah kecamatan juga menjalin kerja sama dengan sejumlah peternak yang dapat memanfaatkan sampah organik sebagai bagian dari kebutuhan mereka.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, karton, besi, dan logam diarahkan untuk dipisahkan karena memiliki nilai ekonomi. Pemilahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
“Semua langkah itu kami lakukan untuk mengantisipasi menumpuknya sampah-sampah organik di wilayah kami. Sampah yang masih bisa diolah kami upayakan untuk dimanfaatkan, sedangkan residu yang tersisa baru diangkut ke TPA,” jelasnya.
Berdasarkan evaluasi pemerintah kecamatan, sampah residu yang dibawa menuju TPA saat ini diperkirakan sekitar 20 hingga 25 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemilahan dan pengolahan dari sumber mulai memberikan dampak terhadap pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPA.
Maharuddin berharap optimalisasi TPS 3R, teba, pengomposan, dan pemanfaatan sampah bernilai ekonomi dapat terus diperluas. Dengan dukungan masyarakat dan konsistensi pemilahan sejak rumah tangga, Kecamatan Biringkanaya menargetkan semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di tingkat lokal dan semakin sedikit residu yang harus dikirim ke TPA.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....