Sampah Organik Dominan di Biringkanaya Capai 60 Persen

  • 22 Agt 2026 11:32 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID Makassar - Sampah organik menjadi jenis sampah yang paling dominan dihasilkan masyarakat Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Berdasarkan evaluasi Pemerintah Kecamatan Biringkanaya, sekitar 60 persen dari total sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik.

Camat Biringkanaya, Maharuddin mengatakan dominasi sampah organik tersebut berasal dari aktivitas rumah tangga maupun kegiatan masyarakat sehari-hari. Kondisi ini menjadi perhatian karena sampah organik membutuhkan penanganan khusus agar tidak berakhir menjadi residu yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Dikatakan, jenis sampah organik yang paling banyak ditemukan antara lain sisa makanan, buah-buahan, daun kering, serta sampah hasil pemangkasan tanaman. Sampah tersebut sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan diolah kembali.

“Di semua tempat, produksi sampah yang dihasilkan masyarakat itu dominan sampah organik. Kalau mau dipresentasikan, sampah organik sekitar 60 persen dari sampah yang ada,” ujar Maharuddin, Sabtu 22 Agustus 2026.

Sementara itu, sampah residu diperkirakan berada pada kisaran 20 persen, sedangkan sampah anorganik juga sekitar 20 persen. Komposisi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah kecamatan untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya.

Maharuddin menjelaskan, penanganan sampah organik dilakukan melalui sejumlah metode yang telah dikembangkan di wilayah Biringkanaya. Salah satunya melalui sistem pengomposan yang dilakukan di fasilitas pengolahan sampah berbasis masyarakat.

Selain pengomposan, sebagian sampah organik juga dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Pengolahan dengan metode tersebut dinilai dapat mengurangi volume sampah yang harus diangkut menuju tempat pemrosesan akhir.

Pemerintah kecamatan juga membuka peluang kerja sama dengan sejumlah peternak untuk memanfaatkan sampah organik yang masih memiliki nilai guna. Dengan demikian, sampah tidak seluruhnya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang.

Maharuddin menyebut upaya pengolahan dilakukan untuk mengantisipasi penumpukan sampah organik. Pengurangan dari sumber dinilai menjadi langkah penting setelah kebijakan pelarangan pembuangan sampah secara terbuka atau open dumping diberlakukan.

“Untuk sampah organik, kami olah di beberapa tempat. Ada sistem pengomposan, sebagian untuk budidaya maggot, dan ada juga yang kami kerjasamakan dengan beberapa peternak yang mengambil sampah organik tersebut,” jelasnya.

Selain sampah organik, pemerintah kecamatan juga mendorong masyarakat memilah sampah anorganik seperti plastik, kertas, karton, besi, dan logam. Jenis sampah tersebut memiliki nilai ekonomi sehingga dapat disalurkan melalui mekanisme pengumpulan dan daur ulang.

Maharuddin berharap pemilahan yang dilakukan sejak dari rumah tangga dapat terus ditingkatkan. Dengan dominasi sampah organik yang cukup tinggi, pengolahan dari sumber dinilai dapat membantu mengurangi beban pengangkutan sampah menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....