ITB Nobel dan UMMA Olah Nira Nipah Rammang-Rammang Jadi Gula Semut Bernilai Ekonomi
- 19 Agt 2026 07:39 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Tim dosen Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia bersama Universitas Muslim Maros (UMMA) berhasil meraih pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026.
Program tersebut dilaksanakan di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, dengan menggandeng Kelompok Tani Hutan (KTH) Nipah Manis Salenrang sebagai mitra. Program difokuskan pada transformasi potensi nira nipah (Nypa fruticans) menjadi produk Gula Semut Nipah yang memiliki nilai tambah ekonomi, lebih terstandar, dan diarahkan menuju produk pangan halal.
Program pengabdian diketuai oleh Dr. Rustan DM, S.E., M.Si., Ak., CA., CPA. dari ITB Nobel Indonesia dengan anggota Dr. Didiek Handayani Gusti, S.E., M.Si. dari ITB Nobel Indonesia dan Dr. Andi Herwati, S.P., M.Si. dari Universitas Muslim Maros. Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut mengintegrasikan kepakaran pemberdayaan masyarakat dan pengembangan bisnis, pemasaran dan transformasi digital, serta agroteknologi dan ekonomi pertanian.
Desa Salenrang yang menjadi bagian dari kawasan Rammang-Rammang memiliki potensi vegetasi nipah yang tumbuh di sepanjang Daerah Aliran Sungai Pute. Nipah memiliki potensi ekonomi karena dapat menghasilkan nira sekitar 3.000–4.000 liter per hektar per tahun dengan kandungan sukrosa sekitar 13–17 persen. Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi optimal bagi masyarakat.
Salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat adalah nira nipah mudah mengalami fermentasi apabila tidak segera ditangani. Kondisi ini membuat nira berpotensi difermentasi menjadi Ballo’, minuman beralkohol tradisional. Melalui program pengabdian ini, tim mendorong transformasi pemanfaatan nira menjadi produk pangan bernilai tambah berupa Gula Semut Nipah.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian peralatan kepada masyarakat. Kami ingin membangun proses transformasi dari hulu hingga hilir, mulai dari kualitas bahan baku, teknologi produksi, manajemen usaha, kemasan, hingga pemasaran. Harapannya, masyarakat mampu mengelola potensi nipah secara mandiri dan berkelanjutan,” jelas Dr. Rustan DM, Ketua Tim Pengabdian, dalam keterangannya, Rabu 19 Agustus 2026.
Salah satu fokus program adalah penerapan teknologi tepat guna untuk mentransformasi pengolahan nira yang sebelumnya dilakukan secara tradisional menuju proses semi-mekanis yang lebih higienis dan efisien.
Tim menerapkan paket teknologi berupa Mesin Kristalisator Gula Semut Otomatis (Automatic Stirrer), Modified Rocket Stove, hand refractometer, pH meter digital, dan Continuous Band Sealer.
Mesin kristalisator digunakan untuk membantu proses pengadukan pada fase pembentukan kristal gula. Teknologi ini dirancang menggunakan wajan stainless steel 304 food grade, motor listrik dan gearbox, dengan kapasitas sekitar 20–30 liter nira kental per siklus. Sementara Modified Rocket Stove dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi proses pemasakan dan mengurangi paparan asap di sekitar produk.
Penggunaan refractometer dan pH meter juga menjadi bagian penting dalam standardisasi bahan baku. Melalui instrumen tersebut, masyarakat diperkenalkan pada pengukuran kadar gula dan tingkat keasaman nira sebelum proses produksi. Adapun Continuous Band Sealer digunakan untuk menghasilkan kemasan yang lebih rapat, rapi, dan mendukung peningkatan kualitas produk.
Program ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan KTH Nipah Manis Salenrang sebagai pelaku utama dalam proses pemberdayaan. Masyarakat dilibatkan mulai dari identifikasi permasalahan, penerapan teknologi, pelatihan, hingga proses evaluasi.
Selain peningkatan kemampuan produksi, tim memberikan penguatan pada aspek manajemen melalui pelatihan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pembukuan sederhana, penetapan harga jual, dan penguatan kelembagaan usaha.
Transformasi juga dilakukan pada aspek pemasaran. Produk Gula Semut Nipah diarahkan menggunakan kemasan yang lebih representatif dan didukung pemasaran digital melalui Google Business Profile, marketplace, media sosial, dan WhatsApp Business. Tim juga merencanakan penguatan akses pasar melalui jejaring dengan toko suvenir, kafe, hotel, dan calon pembeli lainnya.
Menurut tim, posisi Rammang-Rammang sebagai kawasan wisata memberikan peluang besar untuk mengembangkan Gula Semut Nipah bukan hanya sebagai komoditas pangan, tetapi juga sebagai produk khas berbasis potensi lokal yang memiliki cerita mengenai masyarakat dan lanskap nipah Rammang-Rammang.
Program pengabdian tersebut pada akhirnya diharapkan melahirkan model bioekonomi pesisir yang menghubungkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan usaha, dan keberlanjutan lingkungan.
Target program tidak berhenti pada terbentuknya produk Gula Semut Nipah. Tim juga menargetkan peningkatan kemampuan produksi dan manajemen, perluasan jangkauan pasar, serta peningkatan pendapatan mitra minimal 50 persen dibandingkan kondisi awal. Capaian tersebut akan diukur melalui evaluasi dan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
Melalui kolaborasi ITB Nobel Indonesia, Universitas Muslim Maros, KTH Nipah Manis Salenrang, pemerintah desa, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Transformasi nira menjadi Gula Semut Nipah sekaligus diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat, memperkuat posisi produk lokal Rammang-Rammang, serta mendorong pemanfaatan ekosistem nipah secara produktif dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....