BBPOM Makassar Perkuat Ekonomi Sirkular melalui SIMBA dan Gerakan 3R

  • 17 Agt 2026 12:28 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Sampah merupakan merupakan salah satu masalah yang bukan hanya menimbulkan dampak sosial namun juga kesehatan. Timbulan sampah yang tidak dikelola dengan baik menimbukan pemandangan dan bau yang tak sedap, konflik antar warga, meningkatkan resiko banjir, serta memicu berbagai penyakit, seperti gangguan pernafasan, diare, disentri, leptosprirosis, dll.

Pengelolaan sampah membutuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama, berangkat dari semangat tersebut BBPOM Makassar menjadikan momentum peringatan Kemerdekaan RI ke-81 semakin bermakna dengan melaksanakan sosalisasi pengelolaan sampah yang dirangkai dengan lomba 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).

Dalam kegiatan yang diikuti oleh seluruh pegawai BBPOM di Makassar, hadir sebagai narasumber sekaligus juri lomba Lurah Tamarunang, Hariaty, serta Penyuluh DLHK wilayah Kecamatan Mariso, Abdul Kadir dan Abdul Razak Rukka. “Jika para pendiri bangsa berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan memanggul senjata, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan menjaga bumi tetap lestari, mengelola sumber daya secara bijak, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang” ujar Yosef dalam sambutannya, Senin, 17 Agustus 2026.

Yosef mengucapkan terima kasih pada Pemerintah kelurahan Tamarunang dan penyuluh DLHK yang telah melakukan pendampingan sehingga terbentuk Bank Sampah Ewako BBPOM Makssar, sekaligus berkenan hadir melakukan sosialisasi serta menjadi juri lomba 3R.

Dikatakan BBPOM Makassar merupakan satu-satunya UPT BPOM yang telah memiliki Bank Sampah, dan bahkan telah diresmikan langsung oleh Bapak Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. “Ini merupakan bagian dari inovasi SIMBA (Sistem Manajemen Pengelolaan Limbah), di mana pemilahan sampah telah menjadi bagian budaya di lingkungan BBPOM Makassar. Sampah organik dijadikan kompos sedangkan sampah anorganik seperti kertas, kardus, plastik, besi, dll dapat didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat” lanjutnya.

Menurut Yosef sampah anorganik yang telah dipilah dapat dikumpulkan, ditabung, dan dimanfaatkan kembali sehingga menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sirkular. “Kita harus merebranding bahwa sampah yang semula beban dan harus dibuang namun jika dikelola dengan benar bisa menjadi produk bernilai ekonomi dan sebagai tambahan penghasilan” ujar Yosef

Antusiasme peserta terlihat dari beragam kreativitas yang ditampilkan, berbagai material bekas diolah menjadi karya inovatif, mulai dari lukisan, pot tanaman, tempat sampah, tas belanja, dll hal ini menunjukkan bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Perlombaan bukan sekadar kompetisi, tetapi menjadi sarana edukasi untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yaitu mengurangi timbulan sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mendaur ulang material yang dapat dimanfaatkan (Reduce, reuse dan Recycle)

Kegiatan ini sekaligus merupakan bentuk dukungan nyata untuk mengurangi dampak climate change / perubahan iklim global, sekaligus mewujudkan komitmen Net Zero Emission 2060 dari pemerintah Indonesia.

“Menjaga kemerdekaan tidak hanya menjaga kedaulatan bangsa, tetapi juga menjaga ruang hidup tempat generasi Indonesia tumbuh dan berkembang. Dari memilah sampah, lahir kepedulian, Dari kepedulian, lahir perubahan. Dari perubahan, tumbuh ekonomi sirkular dan lingkungan lestari yang berkelanjutan” pungkas Yosef.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....