Kapoposang Paradise Resort Ajak Wisatawan Tinggalkan Jejak Baik di Laut

  • 03 Agt 2026 19:39 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Pangkep - Liburan biasanya identik dengan membawa pulang suvenir. Namun, pengalaman berbeda justru menanti wisatawan di Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Dari pulau kecil di tengah Selat Makassar ini, para pelancong tidak hanya membawa pulang kenangan, tetapi juga meninggalkan warisan bagi laut berupa terumbu karang yang akan terus tumbuh.

Saat media berkunjung beberapa waktu lalu, wisatawan yang ingin mengikuti program konservasi terlebih dahulu mengenakan perlengkapan selam dan berlatih di kolam renang. Mereka bukan diajarkan berpose untuk mendapatkan foto bawah laut yang menarik, melainkan belajar memasang fragmen karang pada media transplantasi sebelum menurunkannya ke dasar laut.

Dalam waktu singkat, mereka berubah dari sekadar penikmat panorama menjadi bagian dari upaya memulihkan ekosistem laut.

Pengalaman unik tersebut menjadi ciri khas Kapoposang Paradise Resort. Alih-alih hanya menawarkan penginapan dengan panorama laut yang indah, resort ini menghadirkan wisata berbasis konservasi, di mana setiap tamu diajak berkontribusi menjaga kelestarian laut.

Direktur Utama Kapoposang Paradise Resort, Fidelis Randy Lili mengungkapkan ide membangun resort itu bermula dari hobi menyelam. Pada 2020, ketika pandemi Covid-19 membatasi berbagai aktivitas, ia bersama sejumlah rekannya menjelajahi perairan Kapoposang.

Di tengah keheningan malam di pulau itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana, mengapa destinasi seindah Kapoposang belum memiliki tempat singgah yang mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama. "Awalnya kami hanya ingin memiliki tempat berkumpul setelah menyelam. Namun setelah melihat potensi pulau ini, kami merasa harus menciptakan sesuatu yang manfaatnya bisa dirasakan lebih luas," ujarnya Senin 3 Agustus 2026.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah resort yang tidak hanya melayani wisatawan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pentingnya menjaga kawasan yang berada di jantung Coral Triangle, salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Melalui program Adopsi Koral, setiap tamu diajak menjadi bagian dari upaya pelestarian.

Bahkan wisatawan yang belum memiliki sertifikat menyelam tetap dapat mengikuti pelatihan dasar sebelum menanam terumbu karang di perairan dangkal. Setiap karang yang ditanam bukan hanya membantu memulihkan ekosistem, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat karena proses transplantasi dilakukan bersama kelompok pemuda setempat.

Bagi Randy, konservasi hanya akan berhasil jika masyarakat sekitar turut merasakan manfaatnya. Karena itu, sejak resort mulai beroperasi, sebagian besar tenaga kerja direkrut dari Pulau Kapoposang. Mereka kemudian mendapat pelatihan di Makassar, mulai dari tata boga, tata graha hingga pelayanan hotel.

"Kami ingin anak-anak pulau menjadi pelaku utama pariwisata di kampungnya sendiri," katanya.

Komitmen terhadap lingkungan juga tercermin dalam operasional resort. Penggunaan plastik sekali pakai terus dikurangi dengan mengajak tamu membawa botol minum isi ulang. Sementara sekitar 70 persen kebutuhan listrik dipenuhi melalui panel surya.

Menurut Randy, langkah-langkah kecil tersebut penting dilakukan karena kawasan laut masih menghadapi ancaman pengeboman ikan dan kerusakan terumbu karang. Ia mengingatkan, membangun sebuah resort mungkin hanya membutuhkan hitungan bulan, tetapi memulihkan terumbu karang yang rusak bisa memakan waktu puluhan tahun.

"Kita bisa membangun resort dalam beberapa bulan. Namun membangun kembali terumbu karang yang rusak membutuhkan puluhan tahun. Karena itu, menjaga laut harus menjadi bagian dari pengalaman wisata," tuturnya.

Saat ini Kapoposang Paradise Resort memiliki 10 kamar dengan tarif mulai Rp2,8 juta hingga Rp8 juta per malam. Namun, bagi pengelolanya, nilai utama yang ditawarkan bukanlah kemewahan fasilitas, melainkan kesempatan bagi setiap wisatawan untuk pulang dengan meninggalkan jejak baik bagi laut dan masyarakat Pulau Kapoposang.

Pulau Kapoposang dapat dijangkau dari Makassar maupun Pangkep. Dari Makassar, wisatawan dapat menggunakan speedboat melalui Dermaga Popsa atau Kayu Bangkoa dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Pilihan lain adalah perahu kayu tradisional atau kapal nelayan dari Pelabuhan Paotere yang memerlukan waktu sekitar empat hingga enam jam. Sementara dari Pangkep, perjalanan menggunakan speedboat hanya memakan waktu sekitar satu hingga tiga jam, sedangkan perahu nelayan dari Pelabuhan Mattiro Baji membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.

Beragam pilihan transportasi tersebut memudahkan wisatawan menikmati keindahan bahari Kapoposang sekaligus ikut berkontribusi menjaga kelestariannya..

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....