Ratusan Tukik Menetas di Kapoposang, Bukti Konservasi Penyu Berbuah Hasil

  • 03 Agt 2026 13:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Pangkep - Di hamparan pasir putih Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), kehidupan baru terus lahir setiap musim. Ratusan tukik berukuran telapak tangan merangkak perlahan menuju laut lepas, memulai perjalanan panjang yang hanya mampu diselesaikan oleh segelintir di antara mereka.

Pulau kecil yang berjarak sekitar lima hingga enam jam perjalanan laut dari Makassar ini bukan sekadar destinasi wisata bahari. Kapoposang merupakan salah satu dari 44 kawasan konservasi penyu di Indonesia yang menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu, sekaligus kawasan konservasi penting di UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.

Di pulau ini, tiga spesies penyu dilindungi rutin mendarat untuk bertelur, yakni penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Koordinator Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar Satuan Pelayanan Pangkep/Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ilham, menyebut Kapoposang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan populasi penyu di Indonesia.

"Dari enam spesies penyu yang ada di Indonesia, tiga di antaranya bertelur di sini dan semuanya merupakan satwa yang dilindungi. Karena itu, Kapoposang memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi," ujarnya kepada awak media, Minggu 2 Agustus 2026 malam.

Setiap musim reproduksi, petugas bersama masyarakat berhasil menetaskan dan melepas sekitar 5.000 hingga 6.000 tukik ke laut.

Ilham menjelaskan, secara alami peluang hidup seekor tukik hingga dewasa sangat kecil. Begitu memasuki laut, tukik langsung menjadi bagian dari rantai makanan dan menghadapi berbagai predator.

"Begitu dilepas, mereka akan dimangsa ikan besar, burung, hingga predator lainnya. Dari ribuan tukik yang dilepas, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan hidup hingga dewasa dan kembali bertelur di pantai tempat mereka dilahirkan," katanya.

Selain ancaman alami, penyu juga menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia. Kerusakan habitat pantai, perburuan telur, perdagangan ilegal, penangkapan sampingan (bycatch), hingga pencemaran laut oleh sampah plastik menjadi penyebab utama terus menurunnya populasi penyu.

Perubahan besar di Kapoposang justru datang dari masyarakatnya sendiri. Sejak 2009, KKP secara intensif melakukan edukasi kepada warga, termasuk kepada mereka yang dahulu dikenal sebagai pengambil telur penyu.

Pada periode 2009 hingga 2020, penyu bahkan semakin jarang naik ke pantai untuk bertelur karena merasa habitatnya tidak lagi aman. Telur-telur mereka kerap diambil untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan.

Tak hanya itu, ancaman juga datang dari nelayan luar kawasan yang menangkap penyu dewasa.

Ilham mengungkapkan, pada 2020 pihaknya bersama aparat penegak hukum menangani kasus pembantaian 15 ekor penyu hijau oleh nelayan dari Kepulauan Tanakeke yang kemudian diproses oleh Polda Sulawesi Selatan.

Peristiwa tersebut menjadi momentum memperkuat pendekatan konservasi berbasis masyarakat.

"Kami melakukan sosialisasi secara masif, pendekatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Sekarang justru kelompok masyarakat yang aktif menjaga penyu adalah orang-orang yang dulu mengonsumsi telur penyu," ungkapnya.

Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan edukasi dan pemberdayaan mampu mengubah ancaman menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian satwa dilindungi.

Status Kapoposang sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep turut membuka peluang baru.

Ilham berharap pengakuan internasional itu tidak hanya memperkuat upaya konservasi, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisatawan, peneliti, hingga kalangan akademisi.

Menurutnya, semakin banyak orang datang untuk belajar dan menikmati keindahan alam Kapoposang, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat lokal tanpa harus mengeksploitasi sumber daya alam.

"Harapan kami, kawasan konservasi ini semakin dikenal dunia. Dengan meningkatnya kunjungan wisata, penelitian, maupun pendidikan, masyarakat lokal juga akan memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas yang tetap menjaga kelestarian lingkungan," katanya.

Komitmen tersebut juga mendapat perhatian dunia. Saat proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep beberapa waktu lalu, dua asesor UNESCO asal Korea Selatan dan Tiongkok turut melepas sekitar 100 ekor tukik ke laut sebagai simbol dukungan terhadap upaya konservasi di Kapoposang.

Bagi masyarakat Kapoposang, pelepasan tukik bukan sekadar seremoni. Setiap anak penyu yang menghilang di balik ombak membawa harapan baru bahwa suatu hari nanti ia akan kembali ke pantai yang sama untuk bertelur, memastikan siklus kehidupan terus berlanjut di salah satu surga konservasi laut Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....