Asesor UNESCO: Maros-Pangkep Punya Warisan Alam dan Budaya Luar Biasa

  • 31 Jul 2026 20:38 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kekayaan alam dan budaya Maros-Pangkep kembali mendapat pengakuan dari asesor UNESCO. Setelah lima hari menyusuri sejumlah kawasan, Soojae Lee, asesor UNESCO Global Geopark dari Korea Selatan, menyebut Maros-Pangkep sebagai salah satu tempat terbaik di dunia berkat perpaduan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang dimilikinya.

Pujian tersebut disampaikan Soojae Lee setelah menyelesaikan rangkaian revalidasi UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep bersama asesor dari Tiongkok, Xiaoping Qiu. Proses evaluasi berlangsung selama lima hari, 27 hingga 31 Juli 2026. Menurut Soojae, kawasan Maros-Pangkep memiliki kekuatan yang tidak hanya terletak pada bentang alam karstnya, tetapi juga pada kekayaan hayati serta kehidupan masyarakat yang tumbuh berdampingan dengan kawasan tersebut.

“Anda memiliki warisan geologi yang sangat luar biasa. Anda juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa. Jadi, Anda hidup di salah satu tempat terbaik di dunia,” kata Soojae Lee, Jumat 31 Juli 2026 sore.

Selama melakukan peninjauan ke berbagai geosite, Soojae mengaku terkesan melihat keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga dan memperkenalkan kekayaan geopark. Menurutnya, hubungan antara masyarakat dan Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark telah terbangun dengan baik.

Masyarakat di sejumlah lokasi yang dikunjungi juga dinilai terbuka dalam menceritakan kehidupan, tradisi, serta hubungan mereka dengan lingkungan sekitar. Bagi Soojae, keterlibatan masyarakat merupakan elemen penting dalam keberlanjutan sebuah geopark.

Kekayaan alam tidak akan memiliki makna maksimal apabila tidak diikuti dengan keterlibatan masyarakat yang tinggal dan menggantungkan kehidupan di dalam maupun sekitar kawasan. Selain masyarakat, Soojae juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark membangun kerja sama lintas sektor.

Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, hingga sektor swasta. Menurutnya, membangun sinergi seperti itu bukan pekerjaan mudah.

Banyak kawasan memiliki warisan alam yang luar biasa, tetapi belum tentu mampu menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu visi pengelolaan. Karena itu, keterlibatan banyak pihak dalam pengelolaan Maros-Pangkep dinilai menjadi salah satu kekuatan yang patut dipertahankan.

Meski memberikan apresiasi positif, Soojae Lee menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memastikan apakah status UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep akan dipertahankan. Tugas asesor hanya melakukan evaluasi lapangan, mengidentifikasi perkembangan maupun kekurangan, kemudian menyampaikan hasil dan rekomendasi kepada UNESCO.

“Yang terpenting adalah terus menjaga dan mengelola geopark ini dengan baik. Keputusan mengenai status UNESCO Global Geopark akan ditetapkan oleh dewan atau badan penilai UNESCO,” ujarnya.

Dengan demikian, hasil kunjungan lima hari tersebut belum menjadi keputusan akhir mengenai status Maros-Pangkep. Rekomendasi para asesor selanjutnya akan menjadi bagian dari proses penilaian UNESCO.

General Manager Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark, Dedy Irfan, mengatakan proses revalidasi menjadi kesempatan untuk menunjukkan berbagai tindak lanjut atas rekomendasi UNESCO sebelumnya. Menurut Dedy, status UNESCO Global Geopark tidak seharusnya dipandang hanya sebagai sebuah penghargaan internasional.

“Status UNESCO Global Geopark bukan hanya pengakuan internasional, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat konservasi, edukasi, penelitian, pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dedy optimistis status tersebut dapat dipertahankan karena pengelolaan geopark melibatkan banyak unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya. Namun, terlepas dari hasil revalidasi nantinya, ia memastikan komitmen menjaga Maros-Pangkep sebagai warisan dunia akan terus berjalan.

Dua asesor UNESCO, Soojae Lee dari Korea Selatan dan Xiaoping Qiu dari Tiongkok, sebelumnya melakukan evaluasi selama lima hari dengan mengunjungi sejumlah geosite di kawasan Maros-Pangkep. Penilaian mencakup berbagai aspek, mulai dari konservasi, edukasi, penelitian, tata kelola, pengembangan pariwisata, hingga pemberdayaan masyarakat.

Kini, hasil evaluasi tersebut akan menjadi bagian dari proses penilaian UNESCO. Pemerintah daerah dan pengelola berharap rekomendasi asesor tidak hanya memperkuat peluang Maros-Pangkep mempertahankan status UNESCO Global Geopark, tetapi juga menjadi peta jalan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

Sebab bagi Maros-Pangkep, mempertahankan status UNESCO bukan sekadar mempertahankan sebuah pengakuan, tetapi memastikan warisan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat di dalamnya tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....