Haul Matewakang Karaeng Jungge Ke-16, Perekat Silaturahmi Rumpun Binamu

  • 30 Jul 2026 10:07 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Penguatan kembali etika kearifan lokal menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya pergeseran nilai kemasyarakatan akibat modernisasi dan perkembangan teknologi informasi. Lembaga Adat Matewakang Karaeng Jungge Raja Binamu Ke-16 menegaskan pentingnya menghidupkan kembali pilar filosofi Bugis-Makassar, yakni Sipakala’biri (saling menghormati), Sikatutui (saling mengayomi dan menjaga), serta Toddopuli (teguh pada pendirian dan kebenaran), sebagai pondasi moral generasi muda.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif Obrolan Khusus Asta Cita di RRI Pro 4 Makassar. Ketua Lembaga Adat Matewakang Karaeng Jungge, Ir. chaidir Lewang Karaeng Bulu, menyampaikan bahwa dinamika sosial abad modern cenderung menipiskan rasa kepedulian dan sopan santun antar sesama warga. Melalui ajaran leluhur, hubungan antar personal sejatinya dibangun atas dasar penghormatan yang saling menyejukkan, di mana yang muda menghormati pengayomnya dan yang tua menaruh kasih sayang tulus kepada penerusnya, Rabu 29 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa pergeseran nilai etika yang terjadi saat ini tidak boleh dibiarkan melenceng terlalu jauh dari ajaran leluhur dan kaidah agama. Meskipun arus digitalisasi tidak mungkin dihindari, integritas moral masyarakat Sulawesi Selatan harus tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya luhur. Budaya bersilaturahmi dan prinsip 'bersenyawa' dalam keluarga serta komunitas dinilai menjadi penawar efektif terhadap bentrokan dan gesekan sosial yang kerap dipicu oleh kepentingan temporal.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Lembaga Adat Matewakang Karaeng Jungge sekaligus Ketua Panitia Haul, Adwin Makgau Patopoi Karaeng Sute, menggarisbawahi keutamaan nilai Toddopuli atau keteguhan memegang janji. Menurutnya, kepemimpinan dan karakter masyarakat masa lalu sangat disegani karena memegang prinsip 'Tarang Gau'—keselarasan antara kata dan perbuatan. Prinsip ini memastikan bahwa komitmen yang telah diucapkan tidak akan berganti atau diingkari demi mempertahankan kehormatan.

Melestarikan ingatan sejarah tersebut, pihak lembaga adat tengah mematangkan persiapan Haul Matewakang Karaeng Jungge Raja Binamu Ke-16 yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Agustus 2026 di Balla Lompoa Ri Bontang, Kabupaten Jeneponto. Rangkaian tradisi budaya luhur seperti seni bela diri ketangkasan Pakbate, atraksi ketangkasan Pamanca, tradisi menumbuk lesung Paddeko, hingga pementasan seni sastra tutur pertunjukan Mandaliong siap dihadirkan untuk mempererat simpul silaturahmi rumpun keluarga dan masyarakat luas.

Figur Karaeng Jungge sebagai Raja Binamu Ke-16 dikenang dalam catatan sejarah sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, sederhana, dan senantiasa melindungi rakyatnya. Salah satu bukti kearifan tata kelola kepemimpinan masa lalu terlihat dari kebijakan pengolahan pangan, di mana hasil panen tidak diperjualbelikan secara komersial melainkan disimpan di lumbung istana untuk dibagikan kembali kepada masyarakat ketika menghadapi musim paceklik.

Melalui momentum peringatan haul serta pembinaan kebudayaan yang berkelanjutan, Lembaga Adat Matewakang Karaeng Jungge berharap generasi muda tidak terasing dari identitas budayanya sendiri. Menjaga warisan leluhur bukanlah bentuk sikap tertutup terhadap kemajuan zaman, melainkan upaya merawat pondasi keteladanan, harga diri, dan nilai kemanusiaan agar tetap dihormati dan disegani dalam tata kehidupan bermasyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....