Menjaga Warisan Sipakala’biri, Sikatutui, dan Toddopuli di Era Modern

  • 29 Jul 2026 09:07 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Lembaga Adat Matewakang Karaeng Jungge Raja Binamu Ke-16 menegaskan pentingnya memperkuat kembali nilai-nilai kearifan lokal Suku Makassar di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus modernisasi. Tiga pilar utama filosofi hidup Makassar yang dinilai krusial untuk dirawat kembali adalah Sipakala’biri (saling menghormati), Sikatutui (saling mengayomi dan melindungi), serta Toddopuli (teguh dalam memegang prinsip dan kata-kata).

Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif Obrolan Budaya Asta Cita yang disiarkan langsung oleh RRI Pro 4 Makassar. Diskusi ini menghadirkan Ketua Lembaga Adat Matewakang, Ir. chaidir Lewang Karaeng Bulu, dan Sekretaris Lembaga Adat, Adwin Makgau Patopoi Karaeng Sute. Ketua Lembaga Adat Matewakang, Ir. Chaidir Lewang Karaeng Bulu, mengungkapkan bahwa pergeseran sosial di era digital saat ini berpotensi mengikis norma kesantunan dan etika bermasyarakat.

Oleh karena itu, falsafah Sipakala’biri yang mengajarkan agar yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda harus terus disemaikan. "Etika dan pesan leluhur berbasis nilai ajaran agama harus senantiasa dipertahankan. Pergeseran zaman boleh terjadi, namun kita tidak boleh melenceng dari norma etika serta budaya saling menghargai atau Sipakala’biri," ujar Karaeng Bulu, Rabu, 29 juli 2026.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Adat, Adwin Makgau Patopoi Karaeng Sute, menyoroti memudarnya nilai Toddopuli dalam kehidupan bermasyarakat modern. "Falsafah Toddopuli mengajarkan kesatuan antara perkataan dan perbuatan (aroa kana ya rupa), sehingga komitmen yang telah diucapkan tidak boleh dengan mudah dilanggar, " tuturnya. Karaeng Sute menjelaskan bahwa keteladanan yang diwariskan oleh para leluhur Raja Binamu Ke-16, Karaeng Jungge, merupakan cerminan nyata dari sifat bijaksana, sederhana, serta pelindung rakyat. Sifat-sifat kepemimpinan tersebut dianggap sangat relevan untuk diimplementasikan oleh generasi muda dan para pemimpin masa kini.

Guna merawat kearifan lokal tersebut, Lembaga Adat Matewakang bakal menggelar Haul Matewakang Karaeng Jungge di Balai Lompoa Waru Bontang, Kabupaten Jeneponto, pada 2 Agustus 2026 mendatang. "Momentum tahunan ini menjadi ajang konsolidasi budaya serta silaturahmi akbar bagi rumpun keluarga dan masyarakat Sulawesi Selatan. Rangkaian acara haul tersebut turut menyajikan berbagai atraksi seni tradisional khas Suku Makassar. Di antaranya tradisi ketangkasan Pakbatte, seni bela diri Pamanca, tradisi menumbuk lesung Pakdeko, serta pementasan seni musik dan tutur Mandaliong, "tambah Adwin Makgau.

Melalui pelaksanaan Haul Matewakang ini, pihak lembaga adat berharap generasi muda Makassar tidak merasa asing dengan warisan budayanya sendiri. Penguatan falsafah Sipakala’biri, Sikatutui, dan Toddopuli diharapkan mampu menjadi benteng moral dalam menghadapi dinamika sosial masyarakat yang kian kompleks.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....