Bentang Karst Terluas Kedua di Dunia, Maros Optimistis Pertahankan Status UNESCO

  • 29 Jul 2026 08:37 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros – Bentang alam karst yang membentang luas di kawasan Maros-Pangkep menjadi salah satu kekuatan utama dalam mempertahankan status sebagai UNESCO Global Geopark. Keunikan geologi, kekayaan flora dan fauna, situs budaya, hingga keterlibatan masyarakat menjadi modal penting yang terus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Maros menegaskan komitmennya untuk mempertahankan pengakuan internasional tersebut melalui penguatan konservasi, pengembangan pendidikan geopark, pelibatan masyarakat, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM di berbagai kawasan wisata. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maros, Suwardi Sawedi, mengatakan pemerintah daerah telah mempersiapkan berbagai langkah dalam menghadapi proses revalidasi UNESCO Global Geopark.

Menurutnya, status UNESCO Global Geopark bukan hanya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Maros dan Pangkep, tetapi juga membawa tanggung jawab besar untuk menjaga kawasan yang memiliki nilai geologi dan keanekaragaman hayati bertaraf dunia. “Kami sudah menyiapkan segala upaya dan daya untuk melakukan revalidasi agar Maros-Pangkep tetap menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark. Ini merupakan bagian dari warisan dunia yang luar biasa,” ujar Suwardi, Selasa, 28 Juli 2026.

Ia menjelaskan, kawasan karst Maros-Pangkep memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak wilayah lain. Dari 12 UNESCO Global Geopark yang telah ditetapkan di Indonesia, Maros-Pangkep dikenal memiliki gugusan karst yang sangat luas dan menjadi salah satu bentang karst terbesar di dunia. “Maros memiliki gugusan karst terluas dan terpanjang kedua di dunia setelah China Selatan. Selain itu, kawasan ini memiliki keindahan alam, flora, dan fauna yang harus kita jaga sebaik-baiknya agar tetap menjadi warisan dunia,” katanya.

Keberadaan kawasan karst tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menyimpan kekayaan geologi, ekologi, budaya, serta sejarah kehidupan manusia yang bernilai penting. Karena itu, pengelolaan kawasan diarahkan agar pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurut Suwardi, dukungan Pemerintah Kabupaten Maros tidak hanya berfokus pada upaya konservasi. Pemerintah juga berupaya memastikan keberadaan UNESCO Global Geopark memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan.

Pelibatan masyarakat terus diperkuat melalui pemberdayaan kelompok sadar wisata atau Pokdarwis, pemerintah desa, kelompok masyarakat, hingga pelaku UMKM yang menjalankan usaha di sejumlah destinasi wisata. “Pelibatan masyarakat kami maksimalkan. Jika status ini tetap kita sandang, tentu menjadi kebanggaan dan rasa syukur bagi masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Maros,” ucapnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi warga, Pemkab Maros juga membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha di kawasan wisata. Di kawasan wisata Bantimurung, misalnya, para pedagang suvenir, makanan, dan produk lokal tidak dikenakan biaya atau tarif khusus untuk menjalankan usaha. “Pelaku UMKM kami beri peluang untuk berusaha. Di Bantimurung, contohnya, penjual suvenir dan makanan tidak dikenakan biaya. Yang kami harapkan, mereka juga ikut menjaga kawasan ini karena merupakan bagian dari warisan dunia,” jelasnya.

Selain memperkuat pelestarian kawasan geopark, Pemerintah Kabupaten Maros juga terus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan melalui pengelolaan destinasi secara kolaboratif. Pengembangan sejumlah destinasi unggulan seperti Bantimurung, Taman Arkeologi Leang-Leang, dan Rammang-Rammang dilakukan dengan melibatkan masyarakat, Pokdarwis, serta Pemerintah Desa Salenrang melalui program pembinaan dan pendampingan. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Hingga Juli 2026, pendapatan dari penjualan tiket objek wisata yang dikelola pemerintah daerah telah mendekati Rp2,5 miliar. Capaian itu meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang berada di kisaran Rp1,3 miliar. Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator tumbuhnya minat wisatawan terhadap destinasi alam dan budaya di Kabupaten Maros.

Pemerintah daerah berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut, terutama jika Maros-Pangkep kembali mempertahankan status UNESCO Global Geopark. Suwardi menegaskan, keberhasilan mempertahankan pengakuan internasional tersebut tidak hanya akan memperkuat posisi Maros-Pangkep di mata dunia, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi pengembangan pariwisata, peningkatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian kawasan karst secara berkelanjutan.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki dan dukungan aktif masyarakat, Maros optimistis UNESCO Global Geopark dapat terus menjadi ruang bersama untuk menjaga warisan geologi dunia sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi warga di sekitar kawasan.

Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi lebih tajam dengan gaya headline portal nasional, atau versi lebih singkat dan padat untuk berita online.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....