Petani Tebu Takalar Resah, Lahan HGU Ditanami Jagung dan Padi

  • 19 Jul 2026 08:38 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Takalar - Persoalan alih fungsi lahan Hak Guna Usaha (HGU) menjadi perhatian petani tebu di Kabupaten Takalar. Mereka khawatir semakin luasnya lahan HGU yang kini dimanfaatkan untuk tanaman jagung dan padi dapat mengancam keberlangsungan produksi tebu serta industri gula di daerah tersebut.

Petani Tebu Rakyat Mandiri, Ibrahim Basir, mengatakan tanaman tebu rakyat masih menjadi salah satu penopang musim giling tahun ini. Namun, ia menyoroti ratusan hektare lahan HGU yang sebelumnya diproyeksikan untuk pengembangan tebu kini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian jagung dan padi.

Menurut Ibrahim, persoalan tersebut tidak terlepas dari belum tuntasnya permasalahan perpanjangan HGU. Kondisi itu, kata dia, turut memicu munculnya penguasaan atau penyerobotan lahan oleh masyarakat.

Ia berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Menurutnya, kepastian status dan pemanfaatan lahan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi tebu di Takalar.

"Kalau persoalan penyerobotan lahan ini tidak segera diselesaikan, ke depan pabrik gula bisa kesulitan mendapatkan bahan baku untuk giling," ujarnya Jumat 17 Juli 2026 malam.

Ibrahim menilai keberadaan lahan tebu harus mendapat perhatian serius, terlebih pemerintah saat ini tengah mendorong program swasembada gula nasional. Dukungan terhadap petani tebu dan kepastian lahan dinilai menjadi bagian penting dalam mencapai target tersebut.

Selain persoalan lahan, petani juga berharap adanya keterbukaan dari pihak pabrik gula terkait penetapan nilai rendemen tebu. Transparansi tersebut dinilai penting agar petani dapat mengetahui secara jelas kualitas tebu yang dihasilkan dan menjadi dasar perhitungan hasil produksi.

"Rendemen ini yang menjadi masalah karena kami berharap ada keterbukaan dari pihak pabrik gula mengenai rendemen yang sebenarnya diterima petani," kata Ibrahim.

Sementara itu, harga gula di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram. Petani berharap harga tersebut dapat meningkat hingga sekitar Rp17 ribu per kilogram untuk menyesuaikan dengan biaya produksi yang terus mengalami kenaikan.

Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kepastian lahan, transparansi rendemen hingga harga gula.

Dengan dukungan tersebut, produksi tebu di Takalar diharapkan tetap terjaga dan mampu berkontribusi terhadap upaya pemerintah mewujudkan swasembada gula nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....