Menag Ajak Generasi Muda Teladani Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari
- 10 Jul 2026 15:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Gowa - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan ulama besar Nusantara yang tidak hanya menyebarkan ajaran Islam. Tetapi juga membangun jembatan kemanusiaan dan diplomasi peradaban hingga ke panggung dunia.
Hal itu disampaikan Menag saat menjadi keynote speaker pada Seminar Internasional 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari bertema Warisan Keislaman, Perjuangan Kemanusiaan, dan Diplomasi Peradaban Dunia yang digelar di Auditorium Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Kabupaten Gowa, Kamis, 9 Juli 2026.
Dalam paparannya, Nasaruddin Umar mengungkapkan perjalanan intelektual Syekh Yusuf selama sekitar 35 tahun di luar negeri telah membentuknya menjadi ulama berwawasan global. Setelah menuntut ilmu di Makkah, Madinah, dan Yaman, Syekh Yusuf melanjutkan dakwah hingga ke Sri Lanka dan Afrika Selatan.
"Syekh Yusuf bukan sekadar penyebar agama. Beliau membangun peradaban melalui ilmu, akhlak, dan perjuangan kemanusiaan. Dakwahnya diterima berbagai bangsa karena mengedepankan hikmah, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia," ujar Menag.
Menurutnya, warisan tasawuf Syekh Yusuf melahirkan wajah Islam yang damai, moderat, dan inklusif. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan dengan upaya Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Menag juga mengajak para akademisi dan peneliti untuk memperkuat kajian terhadap manuskrip peninggalan Syekh Yusuf yang masih tersebar di berbagai perpustakaan dunia, termasuk di Leiden, Belanda, maupun koleksi masyarakat di Sulawesi Selatan.
Dalam kesempatan itu, Menteri Agama meresmikan Syekh Yusuf Corner di UIN Alauddin Makassar sebagai pusat literasi, dokumentasi, dan riset yang didedikasikan untuk melestarikan pemikiran serta perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, menilai Syekh Yusuf merupakan teladan yang memadukan kedalaman spiritual dengan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan, dan kebangsaan.
Menurut Ali Yafid, tasawuf yang diajarkan Syekh Yusuf bukan menjauhkan umat dari kehidupan sosial, melainkan mendorong keberanian memperjuangkan keadilan, membela tanah air, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
"Warisan Syekh Yusuf bukan hanya milik Sulawesi Selatan atau Indonesia, tetapi telah menjadi bagian penting dari peradaban dunia yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang," tutupnya.(*)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....