Pedagang Batu Akik Maros Setia Menjaga Tradisi Warisan Leluhur
- 29 Jun 2026 14:36 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - Demam batu akik yang sempat melanda Indonesia beberapa tahun lalu memang telah berlalu. Namun, di tengah meredupnya tren tersebut, para pedagang cincin batu alam masih bertahan dengan setia menawarkan koleksi mereka kepada para pecinta batu akik.
Di sejumlah warung kopi hingga lapak kaki lima di Kabupaten Maros, aneka cincin batu alam dengan berbagai warna dan corak masih terpajang. Meski tidak lagi diburu seperti masa kejayaannya, batu akik tetap memiliki pasar tersendiri, terutama di kalangan kolektor dan pecinta batu alam.
Salah seorang pedagang, Makmur, mengaku telah menekuni usaha penjualan cincin batu alam selama bertahun-tahun. Baginya, berjualan batu akik bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga mempertahankan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
"Pembelinya memang tidak seramai dulu, tetapi masih ada pelanggan yang datang mencari batu tertentu. Saya bertahan karena memang mencintai batu alam dan ingin menjaga tradisi ini," ujarnya saat ditemui di salah satu warkop di Maros, Minggu 28 Juni 2026 sore.
Menurut Makmur, bagi masyarakat Bugis-Makassar, cincin batu alam memiliki makna lebih dari sekadar aksesori. Batu akik juga menjadi bagian dari identitas budaya, hobi, hingga koleksi yang memiliki nilai estetika dan cerita tersendiri.
Hal senada disampaikan Arif, salah seorang pecinta batu akik. Ia mengaku masih aktif mengoleksi cincin batu alam karena setiap batu memiliki motif dan karakter yang berbeda sehingga menghadirkan daya tarik tersendiri.
Arif menilai komunitas pencinta batu akik hingga kini masih tetap eksis, meski jumlahnya tidak sebesar saat tren batu akik mencapai puncaknya. Ia berharap pemerintah daerah bersama pelaku UMKM dan komunitas pecinta batu dapat kembali menggelar pameran maupun festival batu akik.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mampu menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap batu alam, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perajin, pengrajin perhiasan, hingga pedagang lokal.
Saat ini, beragam jenis batu alam masih dipasarkan dengan harga yang bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Nilainya ditentukan oleh jenis batu, kualitas, keunikan motif, warna, serta tingkat kelangkaannya.
Di tengah perubahan tren, para pelaku usaha berharap batu akik tidak hanya dikenang sebagai fenomena sesaat, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya dan kerajinan lokal yang tetap memiliki tempat di hati para penggemarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....