Pasokan Berkurang, Harga Gula Aren di Maros Tembus Rp25 Ribu per Kg
- 03 Jun 2026 07:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - Sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional maupun pasar modern Kabupaten Maros mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir. Komoditas yang paling terdampak adalah gula aren, gula pasir, dan beras ketan yang menjadi kebutuhan penting rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner, Senin 1 Juni 2026.
Pantauan di sejumlah lapak pedagang menunjukkan harga gula aren atau gula merah kini mencapai sekitar Rp25 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp20 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut terjadi di tengah terbatasnya pasokan dari sejumlah daerah penghasil di Sulawesi Selatan.
Salah seorang pedagang, Haji Hasanuddin, mengatakan pasokan gula aren dari Kabupaten Bone dan Sinjai mengalami penurunan sehingga memengaruhi ketersediaan barang di tingkat pedagang. Menurutnya, berkurangnya stok membuat harga jual terpaksa disesuaikan untuk menutupi biaya pengadaan yang semakin tinggi.
“Pasokan dari daerah penghasil berkurang. Kalau barang sedikit sementara permintaan tetap ada, harga pasti ikut naik,” ujarnya.
Selain gula aren, kenaikan juga terjadi pada gula pasir. Pedagang lainnya, Haji Machmud, mengungkapkan harga gula pasir yang sebelumnya berada di kisaran Rp17 ribu per kilogram kini mencapai Rp19 ribu per kilogram. Sementara beras ketan yang banyak digunakan untuk kebutuhan pangan dan industri rumahan naik dari Rp12 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor pasokan, tetapi juga meningkatnya biaya operasional perdagangan. Salah satu komponen yang turut mengalami kenaikan adalah harga kemasan plastik yang digunakan pedagang untuk melayani pembeli.
Dampak kenaikan harga mulai dirasakan oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro yang bergantung pada bahan baku tersebut. Putri, seorang pembuat kue di Maros, mengaku biaya produksi terus meningkat karena hampir seluruh bahan baku utama mengalami kenaikan harga dalam waktu bersamaan.
Ia menyebut gula dan beras ketan merupakan bahan yang paling sering digunakan dalam proses produksi. Akibatnya, margin keuntungan semakin menipis karena harga jual produk sulit dinaikkan secara signifikan mengikuti kenaikan biaya bahan baku.
“Kalau harga bahan terus naik sementara pendapatan tetap, tentu cukup berat. Kami harus mengatur kembali biaya produksi agar usaha tetap berjalan,” katanya.
Fenomena kenaikan harga sejumlah komoditas sebenarnya juga terjadi di berbagai daerah. Data pemantauan pangan nasional menunjukkan harga sejumlah komoditas strategis, termasuk kelompok gula dan cabai, masih mengalami dinamika harga akibat faktor distribusi, pasokan, dan kondisi produksi di daerah penghasil. Sebelumnya, pemerintah daerah bersama instansi terkait juga rutin melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pangan untuk menjaga stabilitas pasar. Upaya tersebut dilakukan guna memastikan pasokan tetap tersedia dan mencegah lonjakan harga yang dapat membebani masyarakat.
Pedagang dan masyarakat berharap pemerintah dapat memperkuat pengawasan distribusi serta mengambil langkah stabilisasi apabila kenaikan harga terus berlanjut. Mereka juga berharap pasokan dari daerah penghasil kembali normal sehingga harga kebutuhan pokok dapat kembali terjangkau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....