Berawal dari Dapur Rumah, Sarabba Instan Ini Kini Tembus Pasar Nasional

  • 25 Mei 2026 08:50 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Aroma jahe hangat langsung tercium dari dapur sederhana milik Rita Suryaningsih Ambo Ala di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Bersama sang suami, Zukri, Rita mengolah jahe pilihan menjadi bubuk Sarabba instan yang kini mulai dikenal luas hingga luar Sulawesi Selatan.

Di balik proses produksi yang masih dilakukan secara rumahan, pasangan ini ternyata menyimpan mimpi besar untuk memperkenalkan minuman khas Bugis-Makassar ke pasar nasional. “Kami ingin Sarabba bisa dinikmati lebih praktis tanpa menghilangkan cita rasa tradisionalnya,” ujar Rita saat ditemui di lokasi produksinya, Sabtu 23 Mei 2026.

Sarabba sendiri dikenal sebagai minuman khas Bugis-Makassar yang terbuat dari campuran jahe, gula aren, santan, dan rempah-rempah pilihan. Minuman ini biasanya dikonsumsi pada malam hari karena dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh sekaligus menghangatkan badan setelah beraktivitas.

Inovasi Sarabba instan bubuk tersebut pertama kali dirintis Rita pada tahun 2008 di Bekasi, Jawa Barat. Kala itu, Rita mengaku sering kesulitan menikmati Sarabba karena harus membeli langsung di kawasan Jalan Sungai Cerekang, Makassar, sehingga muncul ide membuat versi praktis yang lebih mudah disajikan.

“Awalnya karena saya memang suka minum Sarabba, tapi repot kalau harus cari setiap ingin menikmati,” kata Rita. Dengan memanfaatkan ilmu teknik pangan yang dimiliki suaminya, mereka mulai melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan Sarabba instan dengan rasa yang tetap autentik.

Pada masa awal merintis usaha, Rita memilih Bekasi sebagai lokasi produksi karena akses bahan baku dan kemasan dinilai lebih mudah didapatkan. Ia kemudian memberi nama produknya Sukma Jahe, yang terinspirasi dari kata “sukma” atau jiwa, lalu menambahkan kata Sarabba agar produk lebih mudah dikenal pelanggan.

“Nama Sukma Jahe Sarabba dipilih supaya punya identitas yang kuat dan berbeda dari produk minuman jahe lainnya,” jelas Rita. Setelah pindah ke Makassar pada 2012, usaha tersebut mulai berkembang dan mendapat sambutan positif dari masyarakat pecinta minuman tradisional.

Seiring meningkatnya permintaan pasar, usaha di bawah naungan CV Monity Jaya itu kemudian menghadirkan tiga varian rasa Sarabba instan. Rita menyebut varian original, ekstra pedas, dan moka menjadi pilihan favorit pelanggan karena menawarkan sensasi rasa yang berbeda.

Zukri mengatakan kualitas rasa menjadi perhatian utama dalam setiap proses produksi Sarabba bubuk tersebut. Ia menjelaskan setiap campuran bahan selalu melalui tahap uji coba agar rasa jahe tetap konsisten dan tidak berubah saat diproduksi dalam jumlah besar.

“Kami selalu cek komposisi sebelum produksi supaya rasa dan kualitas Sarabba tetap terjaga,” ujar Zukri. Ia menambahkan proses produksi dimulai dari pengecekan bahan baku, pengeringan, hingga pencampuran rempah sebelum akhirnya dikemas menjadi sachet siap seduh.

Popularitas Sarabba Sukma Jahe ternyata juga menarik perhatian konsumen yang sebelumnya tidak terbiasa mengonsumsi minuman hangat. Salah satu pelanggan, Nazla, mengaku mulai menyukai Sarabba karena rasanya lebih ringan dan nyaman diterima tubuh.

“Saya sebenarnya bukan penyuka minuman hangat, tapi Sarabba Sukma Jahe rasanya lebih mudah dinikmati,” kata Nazla. Menurutnya, aroma rempah yang tidak terlalu tajam membuat minuman tersebut cocok dikonsumsi kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau tubuh terasa lelah.

Perjalanan Sukma Jahe sebagai UMKM minuman khas Sarabba juga mendapat dukungan dari PT Bank Rakyat Indonesia melalui program Rumah BUMN. Rita mengatakan pendampingan tersebut membantu usahanya berkembang, mulai dari penguatan bisnis hingga pemasaran produk secara lebih luas.

“BRI banyak membantu kami lewat pelatihan dan pembinaan usaha sehingga produk kami lebih dikenal masyarakat,” ujarnya. Pada Juli 2025 lalu, Sukma Jahe resmi masuk dalam program BRIncubator sebagai bagian dari pengembangan UMKM potensial di Indonesia.

Program BRIncubator sendiri menjadi salah satu langkah BRI dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, khususnya sektor UMKM. Berbagai pelatihan bisnis hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) diberikan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.

Kini produksi Sarabba Sukma Jahe mencapai sekitar 25 ribu sachet per bulan atau setara lima ribu boks. Pasarnya pun terus berkembang karena produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Malang, hingga Papua melalui jaringan reseller dan agen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....