Strategi Baru BPBD Makassar, Ubah Masyarakat dari Korban Menjadi Penyelamat
- 13 Mei 2026 14:13 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Dr. Fadli Tahar, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan mengenai efektivitas penyelamatan saat terjadi bencana. Dalam sebuah bincang-bincang dalam podcast bersama salah satu konten kreator Makassar, ia memaparkan hasil riset yang menunjukkan bahwa dari total korban bencana, hanya sekitar 5 persen yang berhasil diselamatkan oleh petugas resmi. Fakta ini menjadi titik balik bagi BPBD Makassar untuk menggeser paradigma penanganan bencana di wilayahnya.
Dalam Podcast yang diupload di youtube pada Selasa, 12 Mei 2026, Fadli menjelaskan bahwa 95 persen sisanya diselamatkan oleh faktor lain, yakni diri mereka sendiri, tetangga, dan masyarakat sekitar. "Hal ini terjadi karena petugas membutuhkan waktu untuk menempuh perjalanan menuju lokasi, sementara dalam situasi darurat, setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa, "ujarnya dalam podcast tersebut. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kunci utama keberhasilan penanggulangan bencana sebenarnya berada di tangan masyarakat itu sendiri, bukan hanya pada kesigapan petugas.
Saat ini, fokus utama BPBD Makassar adalah memberikan edukasi dan pelatihan teknis kepada warga. Menurut Fadli, setiap jenis bencana memerlukan teknik penanganan yang berbeda, "misalnya, cara menghadapi kebakaran sangat berbeda dengan cara menghadapi gempa bumi. Masyarakat perlu memahami detail teknis, seperti cara menghindari asap beracun saat kebakaran dengan merangkak di bawah ketinggian 30 sentimeter, agar mereka memiliki peluang bertahan hidup yang lebih tinggi sebelum bantuan medis tiba, "tambahnya.
Dr. Fadli Tahar juga menyoroti pentingnya mengubah peran masyarakat yang selama ini hanya dianggap sebagai objek atau korban. Ia bertekad menjadikan warga sebagai subjek yang aktif dan mandiri dalam melakukan mitigasi dan pertolongan pertama. Upaya ini diwujudkan melalui pembentukan kelompok-kelompok masyarakat yang tangguh, sehingga rantai penyelamatan tidak terputus saat bencana melanda di pemukiman padat penduduk.
"Salah satu program unggulan yang kini tengah digalakkan adalah pembentukan "Kaltana" atau Kelurahan Tangguh Bencana. Melalui program ini, masyarakat di tingkat kelurahan tidak hanya diberi pemahaman teori, tetapi juga dibekali dengan peralatan penanggulangan bencana yang memadai. Dengan adanya personel terlatih dan alat di setiap kelurahan, tindakan penyelamatan atau action dapat langsung dilakukan sesaat setelah kejadian tanpa harus menunggu petugas dari posko pusat, "tuturnya.
Selain edukasi, BPBD Makassar juga menekankan pentingnya pencegahan melalui normalisasi lingkungan. Fadli menyebutkan bahwa banyak bencana, seperti banjir, sebenarnya berakar dari perilaku manusia, terutama terkait pembuangan sampah. Dengan kerja sama lintas stakeholder untuk rutin melakukan pembersihan drainase, potensi bencana dapat ditekan sejak dini. Hal ini membuktikan bahwa mitigasi bukan hanya soal penanganan saat kejadian, tapi juga pemeliharaan lingkungan secara konsisten.
Meskipun mendorong kemandirian masyarakat, BPBD tetap meningkatkan standar pelayanan melalui prinsip "Cepat dan Sabar". Dr. Fadli Tahar menetapkan target respons yang sangat ketat bagi jajarannya, yakni petugas harus sudah berada di lokasi bencana dalam waktu maksimal 7 menit setelah laporan diterima. Kecepatan ini menjadi standar operasional prosedur (SOP) yang tidak bisa ditawar guna meminimalkan jumlah korban jiwa.
Untuk mendukung target respons 7 menit tersebut, BPBD Makassar telah menyiagakan tiga posko besar yang tersebar di titik strategis, yakni di Kerung-Kerung, Ujung Tanah, dan Manggala. Penempatan posko ini diharapkan dapat menjangkau seluruh sudut kota dengan lebih efektif. Dengan kombinasi antara masyarakat yang teredukasi dan petugas yang responsif, Dr. Fadli optimis Kota Makassar akan jauh lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....