Seniman Disabilitas: Melawan Trauma dan Stigma
- 11 Mei 2026 18:20 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – bahwa inklusi dimulai dari penerimaan diri sendiri. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Demikian disampaikan Syahrini Andriyani, seorang Aktor, Sutradara, dan Penulis Naskah yang telah menggelar Pertunjukan Teater Disabilitas Tiga Kota lewat Dialog Interaktif Ruang Disabilitas, Sabtu, 09 Mei 2026.
“dalam pertunjukan ini mbak juga memberikan pesan kuat pada semuanya bahwa inklusi dimulai dari penerimaan diri kita sendiri danDengan dukungan lingkungan yang tepat, keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya dan Kini, mereka tidak lagi merasa sebagai beban,” ungkapnya kepada RRI.
Dikatakan, Dibalik megahnya sebuah pertunjukan seni, terdapat perjuangan batin yang luar biasa dari para aktor disabilitas di Makassar. Selain berlatih teknik peran, mereka harus berhadapan dengan tembok besar bernama stigma internal dan trauma masa lalu sebelum berani tampil di depan publik.
Banyak aktor disabilitas yang mengalami mental block akibat perlakuan kurang menyenangkan di masa lalu. Ketakutan akan ditertawakan oleh penonton karena kondisi fisik mereka seringkali menjadi beban pikiran yang berat. Hal ini membuat kepercayaan diri mereka rapuh saat pertama kali memulai proses latihan.
Syahrini, yang mendampingi para aktor ini, menjelaskan bahwa pendekatan psikologis menjadi bagian tak terpisahkan dari pelatihan. Sesi konseling khusus sering dilakukan untuk memulihkan semangat para aktor. Baginya, proses penyembuhan mental ini tidak bisa diburu-buru dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa dari semua pihak.
Tantangan tidak hanya datang dari diri aktor, tetapi juga dari lingkungan keluarga. Beberapa keluarga cenderung bersikap over protektif karena khawatir terhadap keselamatan anggota keluarganya yang disabilitas. Edukasi kepada keluarga menjadi langkah penting agar mereka memberikan kepercayaan penuh kepada para aktor untuk mandiri.
Dalam proses pelatihan selama tiga bulan terakhir, para aktor diberikan materi olah tubuh, kesadaran ruang, hingga pendalaman emosi. Pelatihan ini bukan sekadar mengejar kualitas akting, melainkan sebuah terapi untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang setara dengan orang lain.
Kesuksesan pementasan pada April 2026 lalu menjadi bukti nyata bahwa keberanian mampu mengalahkan rasa takut. Tepuk tangan penonton menjadi obat bagi trauma masa lalu dan mematahkan stigma bahwa disabilitas hanya patut dikasihani. Mereka kini berdiri tegak sebagai seniman yang dihargai karena karyanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....