Aktor Disabilitas Runtuhkan Stigma Melalui Karya Seni Peran

  • 11 Mei 2026 18:11 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Melalui karya seni peran, para aktor disabilitas berusaha meruntuhkan tembok stigma yang selama ini mengurung ruang gerak mereka. Demikian disampaikan Syahrini Andriyani, seorang Aktor, Sutradara, dan Penulis Naskah yang telah menggelar Pertunjukan Teater Disabilitas Tiga Kota lewat Dialog Interaktif Ruang Disabilitas, Sabtu, 09 Mei 2026.

Dikatakan, Pertunjukan teater disabilitas yang baru saja digelar di Makassar, Gowa, dan Maros bukan sekadar hiburan semata. Seni teater dijadikan sebagai instrumen kuat untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berkarya secara profesional.

Sutradara dan penulis naskah, Syahrini Andriani, menekankan bahwa masyarakat perlu mengubah cara pandang mereka saat menyaksikan seniman disabilitas. Ia mengajak penonton untuk berhenti memberikan apresiasi yang didasari rasa kasihan atau sekadar menganggap mereka sebagai objek inspirasi. Kehebatan seorang aktor harus diukur dari kualitas karyanya di atas panggung, bukan dari kondisi fisiknya.

Dikatakan, masih minimnya fasilitas publik yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Infrastruktur gedung pertunjukan seringkali belum memenuhi standar aksesibilitas yang memadai bagi semua kalangan. Ketiadaan fasilitas seperti toilet khusus, guiding block, atau Juru Bahasa Isyarat dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap hak-hak dasar manusia.

“sebagian besar gedung pertunjukan di Makassar belum 100 persen aksesibel. Salah satu kendala teknis yang paling nyata adalah ketiadaan area khusus kursi roda, terutama di baris depan penonton. Hal ini membuat akses fisik bagi teman-teman disabilitas menjadi sulit dan terbatas,” katanya kepada RRI

Syahrini Andriyani, seorang Aktor, Sutradara, dan Penulis Naskah yang telah menggelar Pertunjukan Teater Disabilitas Tiga Kota lewat Dialog Interaktif Ruang Disabilitas, Sabtu, 09 Mei 2026 berharap agar pihak terkait seperti pemerintah dapat lebih memperhatikan standar aksesibilitas minimum dalam setiap pembangunan atau renovasi gedung kesenian. Tujuannya agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati karya seni tanpa terkendala fisik bangunan.

Melalui advokasi ini, diharapkan panggung-panggung di Makassar tidak lagi menjadi eksklusif bagi kalangan tertentu saja. Dengan infrastruktur yang benar, seni pertunjukan akan benar-benar menjadi milik semua orang, di mana keterbatasan fisik bukan lagi menjadi penghalang untuk berkarya maupun mengapresiasi seni.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....