Pertunjukan Teater Disabilitas Emban Misi Sosial
- 11 Mei 2026 14:38 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pertunjukan teater disabilitas yang digelar di tiga kota April 2026 lalu yaitu di Makassar, Maros, dan Gowa selain sebagai Hiburan juga mengemban misi sosial yang mendalam. Demikian disampaikan Syahrini Andriyani, seorang Aktor, Sutrada, dan Penulis Naskah yang telah menggelar Pertunjukan Teater Disabilitas Tiga Kota lewat Dialoig Interaktif Ruang Disabilitas, Sabtu, 09 Mei 2026.
“Kemudian ada perluasan dampak ya dari kegiatan ini itu perluasan jangkauan pertunjukan ke tiga kota seperti itu, tujuannya itu dari ketiga kota ini yang pertama itu memperluas apa ya akses penonton terhadap karya seni inklusif, Jadi masyarakat di Maros dan Gowa juga berhak menonton dan belajar dari pertunjukan teater kawan-kawan ini gitu,” katanya kepada RRI.
Dikatakan, Program ini hadir sebagai instrumen untuk memperkuat gaung pesan inklusif di tengah masyarakat. Melalui panggung seni, batasan antara penyandang disabilitas dan masyarakat umum berusaha dileburkan.
Syahrini Andriyani mengatakan Salah satu motivasi terbesar dibalik produksi ini adalah memberikan semangat dan motivasi kepada seluruh teman-teman disabilitas. Pementasan ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang bermutu tinggi. Kehadiran para aktor di atas panggung adalah simbol perlawanan terhadap stigma negatif yang masih ada.
Misi inklusivitas ini dilakukan melalui pendekatan mandat kebijakan yang mendukung hak-hak penyandang disabilitas dalam berkesenian. Program ini berupaya memastikan bahwa seni inklusif mendapatkan pengakuan yang layak dalam kebijakan kebudayaan nasional. Ini adalah langkah politis sekaligus kultural untuk memperjuangkan ruang bagi mereka.
Model pertunjukan bergerak yang diterapkan tahun ini menjadi cara unik untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan berpindah dari satu kota ke kota lain, pesan tentang kesetaraan dapat tersampaikan secara lebih personal kepada masyarakat. Publik diajak untuk melihat, merasakan, dan akhirnya memahami realitas kehidupan teman-teman disabilitas.
Dampak dari gerakan ini diharapkan tidak berhenti saat tirai panggung ditutup. Penyelenggara menginginkan adanya perubahan paradigma di tingkat lokal, terutama dalam hal keramahan terhadap disabilitas. Pesan yang dibawa diharapkan mampu mengendap dan menggerakkan komunitas lokal untuk lebih peduli pada isu-isu inklusi.
Melalui dana Indonesiana LPDP, pemerintah menunjukkan keberpihakan pada upaya-upaya perubahan sosial melalui jalur seni. Dukungan ini mempertegas bahwa inklusivitas adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya komunitas tertentu. Kolaborasi ini menjadi pondasi kuat bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan setara.
“Jadi tahun 2026 ini kami mendapat kesempatan kembali dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui dana Indonesiana LPDP, Kesempatan ini pun akhirnya kami gunakan untuk menjadikan program teater disabilitas sebagai program keberlanjutan sejak 2023, Artinya ini bukan program yang lahir tiba-tiba gitu, melainkan kelanjutan dari proses yang kami sudah rintis tiga tahun yang lalu,” katanya kepada RRI.
Pada akhirnya, program teater tiga kota ini adalah sebuah ajakan untuk merayakan keberagaman manusia. Setiap dialog dan gerak di atas panggung merupakan bentuk suara yang menuntut ruang dan hak yang sama. Dengan semakin kuatnya gaung inklusivitas, diharapkan masa depan seni Indonesia akan menjadi milik semua orang tanpa terkecuali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....