Melawan Overthinking, Kunci Membangun Kepercayaan Diri Disabilitas
- 11 Apr 2026 12:09 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Hambatan terbesar bagi penyandang disabilitas seringkali bukan datang dari lingkungan luar, melainkan dari dalam pikiran sendiri. Demikian disampiakan Rizka Rustam, Bendahara Pertuni Sulawesi Selatan serta Staff UPT PPRSA Inang Matutu Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan saat berbincang dalam diskusi Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Makassar, Sabtu, 11 April 2026.
Dikatakan, menyebut bahwa overthinking atau berpikir berlebihan menjadi tembok pertama yang harus diruntuhkan. Ketakutan akan penolakan seringkali muncul bahkan sebelum melangkah keluar rumah. Riska menceritakan bagaimana kecemasan sering menghantui saat hendak mendatangi tempat baru, Pola pikir negatif seperti inilah yang menurutnya harus segera diminimalisir agar tidak menghambat potensi diri.
"Hambatan yang paling mendasar adalah apa yang kita pikirkan sebelumnya, Jadi sebenarnya kadang-kadang overthinking itu adalah hambatan yang paling mendasar, Contohnya misalkan saya mau pergi di suatu tempat, Saya berpikir orang-orang di sana baik tidak ya, Mau terima saya tidak ya, Mau bimbing saya tidak, Belum saja jalan sudah berpikiran yang tidak-tidak, Jadi hal itu sebenarnya yang harus kita tekankan, Di mana pun kita berpijak, di mana pun kita melangkah, pasti ada orang baik, satu atau dua pasti ada. Jadi sebenarnya pikiran-pikiran yang berlebihan itu yang mesti kita minimalisir," katanya kepada RRI.
Prinsip utama yang dipegang Riska adalah menanamkan keyakinan bahwa akan selalu ada orang baik di mana pun kita berada. Ia percaya bahwa dalam setiap langkah, pasti ada satu atau dua orang yang siap membantu. Keyakinan ini menjadi fondasi penting untuk mengikis rasa takut yang belum tentu terjadi di lapangan.
Selain aspek mental, Riska menekankan pentingnya makna kemandirian bagi penyandang disabilitas. Kemandirian bukan berarti harus melakukan segalanya sendirian tanpa bantuan sama sekali. Namun, ia mengartikannya sebagai upaya untuk tidak lagi menyusahkan orang-orang terdekat, terutama orang tua.
Kemandirian paling dasar dimulai dari hal-hal personal, seperti kemampuan mengurus diri sendiri. Riska mencontohkan bagaimana seorang disabilitas seharusnya mulai mampu menentukan pakaian atau menata diri tanpa harus selalu bergantung pada orang lain. Langkah kecil ini menjadi modal awal untuk membangun rasa percaya diri yang lebih besar.
Lebih jauh lagi, Riska memperkenalkan konsep kemandirian berpikir. Hal ini berarti penyandang disabilitas tidak boleh mudah terpengaruh oleh perkataan atau stigma negatif dari orang lain. Kemampuan untuk memfilter opini publik menjadi sangat krusial agar tetap fokus pada pengembangan diri.
Lebih lanjut Rizka menambahkan aspek finansial menjadi puncak dari kemandirian yang diharapkan. Dengan memiliki kemandirian secara ekonomi dan mental, penyandang disabilitas dapat berdiri tegak di atas kaki sendiri. Hal ini diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat agar melihat disabilitas sebagai sosok yang berdaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....